Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

Meeting Results: Pengacara Sebut Santri yang Dibakar di Lombok Pernah Dibully Anak Pemilik Ponpes

Sandra Davis - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Meeting Results: Santri Lombok Dibakar, Dibully Anak Ponpes Meeting Results - Dalam Meeting Results yang dihadiri oleh kuasa hukum korban dan pihak terkait

Meeting Results: Pengacara Sebut Santri yang Dibakar di Lombok Pernah Dibully Anak Pemilik Ponpes

Meeting Results: Santri Lombok Dibakar, Dibully Anak Ponpes

Meeting Results – Dalam Meeting Results yang dihadiri oleh kuasa hukum korban dan pihak terkait, terungkap bahwa santri yang dibakar di Pondok Pesantren Rosyidatusshaulatiyyah Al Ibrahimy NW, Lombok Tengah, pernah mengalami perundungan dari anak pemilik ponpes. Kuasa hukum keluarga korban, Putri Maya Rumanti, mengungkap fakta ini setelah melakukan investigasi mendalam dengan keterangan para relawan dan santri yang selamat. Dari hasil pemeriksaan, dua pelaku utama, R dan Y, diduga sering melakukan kekerasan terhadap korban. Y, sebagai anak pemilik ponpes, dikaitkan dengan tindakan fisik yang lebih intens.

Fakta Terungkap dalam Proses Investigasi

Putri menyebut bahwa bentuk bullying yang dilakukan R dan Y berbeda. R sering mencoret-coret tubuh korban, sementara Y dituduh memukul dan menendang perut mereka. Dalam Meeting Results yang berlangsung di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Putri menjelaskan bahwa korban yang meninggal, Sobirin, juga sempat dipaksa membeli bensin oleh R. Jika menolak, Sobirin diancam akan dihukum, dipukul, hingga dibakar. “Keluarga korban mengatakan sesuai cerita almarhum, ia dibully dan dipaksa membeli bensin,” tambah Putri.

“Kami bertanya, apa yang dilakukan R? R suka membully dan mencoret-coret tubuh salah satu korban. Sementara Y, anak pemilik ponpes, dituduh memukul dan menendang perut mereka,” ujarnya.

Menurut Putri, korban yang sempat selamat memberikan kesaksian bahwa kekerasan fisik terjadi sebelum insiden kebakaran. Dalam Meeting Results, ia menyatakan bahwa R dan Y memerintahkan para santri untuk mengumpulkan kayu dan sampah sebagai bahan bakar. “Di dalam ruangan, pelaku menumpahkan bensin di dalam mika, lalu meminta korban untuk menghidupkan api. Al mengatakan jangan dihidupkan, takut kebakar, tapi pelaku tetap melanjutkan tindakannya,” jelas Putri.

Kronologi Kebakaran dan Tindakan Pelaku

Putri membeberkan kronologi peristiwa kebakaran berdasarkan laporan para saksi. Kejadian bermula saat santri diundang oleh R untuk membuat ketapel pada Desember 2025. Devin, salah satu korban, masuk lebih dulu ke ruangan untuk memperbaiki kipas angin yang rusak. Beberapa menit kemudian, R dan tiga orang lain masuk sambil menunggu Sobirin membawa bensin. “Di dalam ruangan, mereka memerintahkan korban mengumpulkan kayu dan sampah,” tambah Putri.

“Tersangka R menumpahkan bensin di dalam mika, lalu menyelidiki alasan mengapa api harus dinyalakan. Al mengatakan jangan dihidupkan, tapi pelaku tetap menghidupkan apinya. Akhirnya, bensin menyambar dan ruangan terbakar. Tersangka Y meninggalkan ruangan bersama satu korban, Yus, tanpa mengajak rekan-rekannya,” ungkapnya.

Putri menyoroti ketidaksengajaan pelaku dalam menyelamatkan korban. Menurutnya, R dan Yus meninggalkan ruangan sebelum tiga orang lain terjebak di dalam. “Kami bertanya berapa jeda waktu mereka berada di ruangan sebelum bisa diselamatkan. Mereka mengatakan cukup lama. Padahal dua orang sudah keluar lebih dulu. Ini menunjukkan ada kesengajaan dari pelaku,” terang Putri. Dalam Meeting Results, ia juga menekankan bahwa insiden kebakaran bukan hanya kecelakaan, tapi hasil dari rangkaian tekanan dan intimidasi sebelumnya.

Sejumlah saksi mengungkap bahwa kejadian ini menimbulkan kecemasan di kalangan santri. Mereka merasa tidak aman dan khawatir akan terjadi hal serupa. Dalam Meeting Results, para peserta rapat sepakat bahwa investigasi harus terus dilakukan untuk memastikan adanya keterlibatan anak pemilik ponpes dalam kejadian ini. “Kami menyarankan agar penyelidikan tidak hanya fokus pada R dan Y, tapi juga mencari sumber tekanan yang mengarah pada tindakan ekstrem mereka,” kata Putri.

Kejadian kebakaran ini menjadi sorotan media dan masyarakat karena menunjukkan keterlibatan pihak berwajib dalam pembelajaran penggunaan bensin. Dalam Meeting Results, para peserta rapat menyepakati bahwa penyebab kebakaran perlu dikaji lebih dalam, termasuk faktor psikologis dari perundungan sebelumnya. “Ini bukan sekadar kecelakaan, tapi ada hubungan antara bullying dan tindakan membakar,” jelas Putri. Selain itu, korban yang meninggal juga menjadi sorotan karena perannya dalam kejadian ini, yang terungkap melalui pemeriksaan keluarga dan saksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *