Pelaku Pelecehan di Grup WA Mahasiswa Unesa Gunakan AI untuk Merendahkan Korban
Kasus Pelecehan Berdampak Luas, 26 Korban Terlibat
Pelaku pelecehan di grup WA mahasiswa Unesa memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk memperparah aksi mereka. Kasus ini menggambarkan bagaimana kekerasan seksual modern tidak hanya dilakukan secara langsung, tetapi juga memanfaatkan alat digital untuk menyebarkan kebencian. Berdasarkan laporan DPM Unesa, total ada 26 korban yang menjadi sasaran, termasuk perempuan dan laki-laki. Dugaan kejadian ini mencolok karena pelaku menggunakan AI untuk menghasilkan konten pelecehan, yang menurut pengakuan mereka, disebarkan ke dalam grup percakapan secara sistematis.
“Pelaku menggunakan AI untuk menghasilkan pesan dan konten yang tidak sopan, sehingga muncul seperti dari sumber yang independen,” jelas Tegar Eka Pambudi El Akhsan dalam pernyataannya, Sabtu (18/7). Teknologi ini digunakan untuk menciptakan gambar atau teks yang merendahkan, serta menyisipkan element elemen kejutan agar korban merasa terintimidasi. DPM Unesa mengungkapkan bahwa penggunaan AI dalam kasus ini menjadi bukti bagaimana teknologi bisa dijadikan alat untuk menindas.
Pelecehan Mulai dari Grup Kecil, Berdampak ke Grup Umum
Kasus pelecehan di grup WA mahasiswa Unesa dimulai dari satu grup kecil yang hanya terdiri dari tiga pelaku: RY, HA, dan AD. Awalnya, mereka berdiskusi tentang hal-hal sepele, tetapi perlahan mengarah ke topik yang tidak etis. Saat ini, mereka telah memperluas diskusi ke grup lain yang sebelumnya digunakan untuk membicarakan lomba. Grup tersebut beranggotakan enam orang, termasuk ketiga pelaku. Aksi mereka memicu kejadian yang terus berkembang, terutama karena AI mempercepat distribusi pesan-pesan merendahkan.
“DPM memperoleh informasi bahwa grup WA ini berisikan pesan yang tidak hanya berupa komentar pribadi, tetapi juga menyebar ke orang-orang yang tidak terkait,” kata Tegar. Pelaku menggunakan AI untuk menghasilkan berbagai bentuk pesan, seperti teks, foto, atau video, yang kemudian dikirim ke korban dengan cepat. Hal ini memperbesar dampak kekerasan, karena korban tidak hanya merasa diperlakukan tidak baik secara langsung, tetapi juga melalui media yang mereka percayai.
Pelaku Terima Sanksi, Namun Penyelidikan Masih Berlangsung
Setelah dilakukan penyelidikan, tiga pelaku utama, yaitu HA, RY, dan AD, telah diberikan sanksi berupa permintaan maaf. Mereka juga melakukan sujud dan mencium kaki orang tua korban sebagai bentuk penyesalan. Sementara itu, dua pelaku tambahan, RE dan JO, yang awalnya diduga terlibat, belum terbukti melakukan tindakan tersebut. DPM Unesa menyatakan bahwa kejadian ini sedang ditangani oleh Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) untuk memastikan bahwa semua pihak yang terlibat diberi sanksi sesuai aturan.
“PPKS masih melakukan verifikasi terhadap seluruh anggota grup, termasuk mengumpulkan bukti digital yang berupa pesan dan rekaman dari korban,” tambah Tegar. Proses ini membutuhkan waktu, terutama untuk memastikan bahwa AI yang digunakan benar-benar menjadi faktor utama dalam penyebaran pelecehan. Pihak kampus juga berupaya memahami bagaimana teknologi bisa digunakan secara melawan hukum untuk merusak reputasi dan kenyamanan korban.
Peran AI dalam Menyebarkan Pelecehan Seksual
Pelaku pelecehan di grup WA mahasiswa Unesa memanfaatkan AI sebagai alat untuk membuat konten yang lebih efektif dalam merendahkan korban. Teknologi ini memungkinkan mereka menghasilkan pesan yang terlihat lebih natural dan tidak terdeteksi segera sebagai upaya pelecehan. Misalnya, AI digunakan untuk menyusun kalimat yang merendahkan dengan pola yang menyesatkan, sehingga korban merasa seperti sedang mengalami diskriminasi atau hinaan dari sumber yang tidak bisa dihindari.
“AI mempercepat proses penyebaran pesan, karena konten bisa dihasilkan dalam jumlah besar hanya dalam waktu singkat,” kata Vinda Maya Setianingrum, Direktur Humas Unesa. Dengan menggunakan AI, pelaku mampu menghasilkan berbagai jenis kebencian, termasuk pesan yang mengandung tekanan psikologis. Kampus juga sedang mengevaluasi cara mengintegrasikan AI ke dalam proses pencegahan kekerasan seksual di masa depan.
Langkah Kampus untuk Meminimalisir Dampak Pelecehan
Setelah kejadian pelecehan di grup WA mahasiswa Unesa terungkap, kampus langsung mengambil langkah-langkah untuk meminimalisir dampaknya. Selain meminta pelaku meminta maaf, DPM Unesa juga berencana memberikan pelatihan tentang penggunaan teknologi digital secara bertanggung jawab. Penyelidikan terus berlangsung hingga 13 Juli 2026, dengan tujuan mengidentifikasi seluruh pihak yang terlibat dan memberikan sanksi yang adil.
“Kampus berkomitmen untuk menindak tegas pelaku dan meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang penggunaan media sosial,” ujar Vinda. Tindakan ini juga melibatkan diskusi dengan mahasiswa tentang bagaimana AI bisa menjadi alat yang dua kali lipat: baik untuk penguasaan ilmu maupun untuk merendahkan.
Sebagai contoh, AI digunakan untuk mempercepat proses pengiriman pesan atau memodifikasi gambar korban agar lebih ‘memalukan’. Hal ini membuat korban merasa tidak bisa menghindari tekanan dari sumber yang tidak terduga. DPM Unesa menekankan bahwa teknologi kecerdasan buatan bukan lagi alat bantu, tetapi bisa menjadi faktor penentu dalam kejadian kekerasan. Mereka juga berharap kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi mahasiswa lain tentang pentingnya menggunakan teknologi secara bijak.
Kasus ini menjadi bukti bahwa pelecehan di grup WA mahasiswa Unesa tidak hanya terjadi di dalam ruangan fisik, tetapi juga melalui ruang digital yang mungkin lebih mudah diakses. Kampus sedang memperbaiki sistem pengawasan di media sosial, termasuk mengembangkan kebijakan untuk memblokir grup yang menyebarkan kekerasan seksual. Sementara itu, korban juga diberikan dukungan psikologis untuk mengatasi trauma akibat aksi ini.
