Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

Solving Problems: Cerita WNI di Eropa saat Gelombang Panas: Tidur Buka Jendela, Ngadem di Danau

Robert Hernandez - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Cerita WNI di Eropa saat Gelombang Panas: Tidur Buka Jendela, Ngadem di Danau Pengalaman WNI di Eropa Saat Gelombang Panas Solving Problems - Gelombang panas

Solving Problems: Cerita WNI di Eropa saat Gelombang Panas: Tidur Buka Jendela, Ngadem di Danau

Cerita WNI di Eropa saat Gelombang Panas: Tidur Buka Jendela, Ngadem di Danau

Pengalaman WNI di Eropa Saat Gelombang Panas

Solving Problems – Gelombang panas luar biasa di Eropa mendorong banyak orang untuk beradaptasi dengan kondisi cuaca yang ekstrem, termasuk warga negara Indonesia yang tinggal di Inggris dan Swiss. Anton Alifandi, seorang WNI yang telah menetap di London selama 33 tahun, mengungkapkan suhu di ibu kota Inggris mencapai pertengahan 30 derajat Celsius. Meski tinggal di negara berbeda, keduanya sepakat bahwa heatwave tahun ini lebih intens dibanding masa lalu.

“Rumah-rumah di Inggris dibangun justru untuk menahan udara dingin, bukan cuaca panas,” ujar Anton kepada kumparan, Senin (29/6).

Banyak warga Inggris mengalami kesulitan karena bangunan mereka tidak dirancang untuk menghadapi panas. Anton menyebutkan, rumah yang dibangun tahun 1937 tidak dilengkapi pendingin ruangan. Untuk mengatasi itu, ia memilih kerja di kantor saat suhu terasa terlalu panas. “Hari Kamis saya kerja dari rumah, rasanya susah sekali konsentrasi karena panas. Besoknya saya memilih kerja di kantor karena ada AC,” lanjut Anton.

Perbedaan Antara Anton dan Dandi

Sementara itu, Dandi Yuda, WNI di Jenewa, Swiss, mengatakan penggunaan AC permanen tidak dilarang, tetapi proses perizinan cukup rumit. Ia menuturkan, calon pemasang AC harus memenuhi berbagai syarat, seperti sumber energi dan dampak lingkungan. “Kalau mau pasang AC harus urus izin. Ditanya sumber energinya apa, berisik atau enggak, sampai dampaknya ke lingkungan,” ujar Dandi kepada kumparan.

“Kadang harus ada surat dokter kalau memang benar-benar butuh AC,” tambah Dandi.

Dandi juga menjelaskan, banyak penghuni apartemen di Swiss merupakan penyewa sehingga tidak boleh mengubah struktur bangunan. “AC harus ngebor tembok. Rata-rata pendatang tinggal sementara, jadi enggak boleh mengubah struktur bangunan,” katanya.

Pengaruh Cuaca Panas pada Aktivitas Sehari-hari

Dalam beberapa kasus, pemasangan AC bahkan memerlukan alasan medis. Meski suhu melonjak, aktivitas masyarakat di Inggris dan Swiss tetap berjalan normal. Anton menyebutkan jam kerja kantoran tidak berubah, meski sebagian layanan transportasi dan sekolah sempat terdampak. “Sebagian jalur kereta sempat dihentikan sementara dan ada beberapa sekolah dasar yang tutup,” katanya.

“Di kereta atau bus selalu ada pengumuman, ‘drink a lot, stay hydrated’ (minumlah banyak air, jaga tubuh tetap terhidrasi,” ujar Anton.

Dandi mengatakan sebagian besar kantor tetap beroperasi, meski ada perusahaan yang menerapkan jam kerja lebih singkat atau bekerja dari rumah. “Enggak ada pengurangan jam kerja secara umum, tapi ada kantor yang jam kerjanya jadi half day, half week, atau WFH (work from home),” ujarnya.

“Dari media lokal imbauannya ya stay at home dan minum banyak,” tambah Dandi.

Cara Bertahan yang Berbeda

Saat suhu mulai tak tertahankan, keduanya memiliki strategi berbeda. Anton memilih membuka seluruh jendela dan pintu setiap tidur untuk mengalirkan udara. “Kalau tidur ya buka semua jendela dan pintu supaya angin masuk,” katanya. Menurutnya, cara ini cukup efektif karena Inggris hampir tidak memiliki masalah nyamuk. “Kalau di Jakarta mungkin pintu dibuka nyamuk masuk. Untungnya di sini anginnya masuk tanpa nyamuk,” ujarnya.

Sementara itu, Dandi lebih sering menghabiskan waktu di danau. “Keseharian ya stay di dalam rumah, minum banyak, sama renang di danau, biasanya ke Plage des Eaux-Vives,” katanya. Saat diwawancarai kumparan pada Minggu (28/6), Dandi sedang berada di Danau Bled, Slovenia. “Aku lagi escape ke Slovenia. Panas juga, tapi at least enggak sepanas Jenewa,” ujarnya.

“Heatwave mulai sekitar 19 Juni. Tanggal 22 sampai 24 panas banget, 37-38 derajat, feels like 40,” katanya.

Kedua WNI ini sepakat bahwa panas di Eropa memiliki karakteristik berbeda dibanding Indonesia. Anton menambahkan warga Inggris sudah terbiasa dengan kondisi cuaca ekstrem, sementara Dandi memperhatikan bahwa suhu di Jenewa bisa mencapai 38 derajat Celsius dengan rasa terbakar hingga 40 derajat. Meski begitu, mereka tetap berusaha mengatasi tantangan ini dengan cara masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *