Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

Topics Covered: Bayi di Bekasi Radang Selaput Otak: Diduga Salah Suntik Vaksin, Dinkes Bantah

Robert Hernandez - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Topics Covered: Bayi Bekasi Radang Selaput Otak, Diduga Kesalahan Suntik Vaksin, Dinkes Bantah Kasus Radang Selaput Otak pada Bayi di Bekasi Topics Covered

Topics Covered: Bayi di Bekasi Radang Selaput Otak: Diduga Salah Suntik Vaksin, Dinkes Bantah

Topics Covered: Bayi Bekasi Radang Selaput Otak, Diduga Kesalahan Suntik Vaksin, Dinkes Bantah

Kasus Radang Selaput Otak pada Bayi di Bekasi

Topics Covered – Seorang bayi perempuan berusia 9 bulan, NR, mengalami radang selaput otak setelah menerima vaksin di Puskesmas Bintara Jaya, Bekasi Barat, pada 13 Juni. Kondisi bayi tersebut memburuk setelah beberapa jam, dengan gejala seperti demam tinggi, muntah, dan kejang berkepanjangan. Keluarga bayi belum mendapatkan penjelasan resmi terkait dugaan kesalahan pemberian vaksin, yang membuat mereka mempertanyakan tanggung jawab Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Bekasi atas kejadian ini. Berdasarkan laporan, vaksin campak yang seharusnya diberikan sesuai jadwal justru disuntikkan dua kali, dengan petugas menyatakan bahwa ini adalah prosedur yang benar. Hal ini menjadi perdebatan keluarga dan masyarakat setempat.

Proses Pemberian Vaksin dan Dugaan Kesalahan

“Saya sudah menyerahkan buku KIA dan menjelaskan bahwa anak saya akan menerima vaksin campak. Saat penimbangan, petugas kembali memastikan bahwa anak saya akan divaksinasi,”

Andin, ibu dari bayi NR, menjelaskan bahwa keluarga dibawa ke Puskesmas setelah diarahkan oleh klinik lokal. Proses pendaftaran dan pengukuran tinggi badan dilakukan sebelum penyuntikan, sehingga petugas seharusnya mengetahui jenis vaksin yang akan diberikan. Namun, saat prosedur, petugas menyuntikkan vaksin dua kali tanpa menjelaskan jenisnya. Andin mempertanyakan apakah yang disuntikkan vaksin DPT atau campak, karena jadwal vaksin DPT seharusnya sudah diikuti sebelumnya. Kejanggalan ini menimbulkan ketidakpercayaan terhadap prosedur vaksinasi yang dijalankan.

Menurut jadwal imunisasi pemerintah, vaksin DPT biasanya diberikan di usia 2, 4, dan 6 bulan, sementara vaksin campak diberikan di usia 12-15 bulan. Jadi, kejadian dua kali suntik vaksin pada bayi NR diusia 9 bulan menyebabkan pertanyaan besar. Andin menyebutkan bahwa buku imunisasi yang ia bawa menunjukkan bahwa vaksin DPT telah diberikan sesuai jadwal. Namun, petugas hanya diam dan berdiskusi dengan rekan-rekan kerjanya, tanpa memberikan penjelasan atau permintaan maaf.

Kondisi Bayi dan Tanggung Jawab Institusi

Gejala radang selaput otak pada NR muncul setelah prosedur vaksinasi selesai. Demam tinggi dan kejang berkepanjangan membuat kondisi bayi memburuk. “Anak saya bangun jam empat pagi dalam kondisi panas tinggi dan kejang yang berlangsung lebih dari 30 menit. Saya langsung membawanya ke rumah sakit,” tutur Andin. Di rumah sakit, NR menjalani pemeriksaan CT Scan yang menunjukkan adanya peradangan pada selaput otak. Meski kondisi bayi sudah membaik, ia masih sering mengalami demam dan gejala kejang. Keluarga menilai bahwa kejadian ini menunjukkan kurangnya transparansi dan pengawasan dalam pemberian vaksin.

Dinas Kesehatan Kota Bekasi membantah adanya kesalahan dalam prosedur vaksinasi. Mereka menyatakan bahwa pemberian vaksin di Puskesmas Bintara Jaya telah sesuai standar dan prosedur. Namun, keluarga tetap mengharapkan penjelasan lebih jelas tentang jenis vaksin yang diberikan, serta tanggung jawab institusi dalam mencegah kejadian serupa. Andin mengungkapkan bahwa keluarga menanggung seluruh biaya pengobatan, transportasi, dan kebutuhan lainnya, tanpa bantuan finansial dari pihak Dinkes.

Respons Masyarakat dan Kebutuhan Transparansi

Kasus ini menimbulkan perhatian dari masyarakat Bekasi, terutama orang tua yang khawatir akan keamanan vaksinasi anak mereka. Berbagai pertanyaan muncul terkait standar pemberian vaksin dan pengawasan oleh Dinkes. Andin menekankan bahwa kejelasan tentang jenis vaksin yang diberikan sangat penting, karena kejadian serupa bisa mengganggu kepercayaan publik terhadap program imunisasi. “Yang dibutuhkan adalah tindak lanjut nyata, bukan hanya ucapan,” katanya.

Topics Covered – Dinkes Kota Bekasi juga menyatakan bahwa mereka telah melakukan investigasi terkait kejadian tersebut. Namun, hasil investigasi belum dirilis secara publik. Sejumlah petugas menyebutkan bahwa kejadian dua suntikan pada bayi NR bisa terjadi karena miskomunikasi antar petugas atau kesalahan dalam pencatatan data. Meski demikian, keluarga masih mempertanyakan apakah semua langkah telah diambil untuk memastikan kesesuaian jadwal vaksinasi. Kasus ini menjadi bahan evaluasi bagi Dinkes, terutama dalam upaya meningkatkan kesadaran petugas terhadap prosedur yang tepat.

Dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat, Dinkes Kota Bekasi menegaskan bahwa mereka akan memperketat pengawasan terhadap prosedur pemberian vaksin. Namun, keluarga meminta adanya kejelasan lebih lanjut dan langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. “Kami berharap ada tindakan konkret, bukan sekadar bantahan,” pungkas Andin. Dengan penjelasan yang jelas dan transparan, program vaksinasi di Bekasi diharapkan bisa berjalan lebih aman dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *