Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

Warga di Depok Diteror Tetangga Sejak 2017 – Rumah Sempat Ditempel Tulisan Hinaan

Linda Brown - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Warga Depok Alami Teror Tetangga Sejak Tahun 2017 Warga di Depok Diteror Tetangga Sejak 2017 - Sejak 2017, warga Depok, khususnya di Gang At-Taufik, Rangkapan

Warga di Depok Diteror Tetangga Sejak 2017 – Rumah Sempat Ditempel Tulisan Hinaan

Warga Depok Alami Teror Tetangga Sejak Tahun 2017

Warga di Depok Diteror Tetangga Sejak 2017 – Sejak 2017, warga Depok, khususnya di Gang At-Taufik, Rangkapan Jaya, Pancoran Mas, telah mengalami berbagai bentuk gangguan dari tetangga yang menghiasi kehidupan mereka. Konflik antara keluarga Ashyfa dan tetangganya yang tidak diketahui identitasnya memicu serangkaian tindakan tak terduga, termasuk penghinaan yang ditempelkan di depan rumah. Ashyfa, yang pindah ke Depok dari Kebagusan, Jakarta Selatan, pada 2015, mengungkapkan bahwa teror ini telah berlangsung selama lebih dari enam tahun, hingga kini.

Konflik Memuncak dengan Tindakan Penghinaan

“Sejak pindah ke Depok pada 2015, saya selalu mengalami gangguan setiap tahun, bulan, dan minggu,” cerita Ashyfa saat ditemui pada Jumat (17/7). Ia menjelaskan bahwa konflik bermula dari kebiasaan tetangganya menegur Azis Suraji, pemilik rumah, karena suara musik yang keras. Meski telah melalui proses mediasi, upaya penyelesaian ini selalu berujung pada perjanjian yang diabaikan.

Kasus terbaru yang memicu kekhawatiran adalah tulisan hinaan yang ditempel dan dilaminating di depan rumah korban. Ashyfa menuturkan bahwa tulisan tersebut mengandung frasa seperti “manusia paling menyedihkan” dan “butuh uluran tangan dari orang lain”. Meski tidak memahami maksud dari tindakan ini, ia yakin itu adalah bentuk intimidasi yang bertujuan menyiksa secara psikologis.

Kehidupan Keluarga Terganggu hingga Laporan ke Polisi

Keluarga Ashyfa mengalami perlakuan beragam, mulai dari rumah dilempari batu hingga pagar dihancurkan. Ada pula ancaman akan disantet yang membuat mereka takut beraktivitas di lingkungan sekitar. Setelah tak kuat menerima teror ini, mereka akhirnya melaporkan kejadian ke Polres Metro Depok. “Kemarin, tepat jam sembilan, kami membuat laporan,” kata Ashyfa. Namun, hingga kini, tetangganya tidak memberikan penjelasan atas tindakannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, konflik tetangga ini terus memburuk. Tidak hanya tulisan hinaan, pelaku juga mengirimkan pesan teror melalui media sosial dan kadang mengintai keluarga Ashyfa di malam hari. Tindakan ini membuat mereka merasa tidak aman, bahkan hampir setiap hari mengalami gangguan. “Saya sudah tidak bisa tidur tenang, apalagi menghiraukan,” tambahnya.

Ekspansi Teror hingga Dampak Psikologis

Teror yang dijalaninya tidak hanya memengaruhi kehidupan pribadi Ashyfa, tetapi juga mengganggu keharmonisan lingkungan sekitar. Banyak warga lain di Gang At-Taufik merasa cemas karena kejadian serupa sering terjadi. “Kami pernah mengunjungi rumah tetangga lain yang juga menjadi korban teror serupa,” jelas Ashyfa. Ia mengatakan bahwa teror ini telah menjadi rutinitas, dan kerap terjadi tanpa ada tanda-tanda berhenti.

Menurut Ashyfa, kekerasan yang dilakukan pelaku tetangganya berupa penghinaan yang terus-menerus. Meski tidak diketahui siapa pelaku sebenarnya, ia yakin itu adalah tindakan yang sengaja dilakukan untuk menyiksa. “Saya bahkan takut keluar rumah, karena takut diintai oleh tetangga yang tak baik hati,” tuturnya. Selain itu, tindakan ini juga membuat keluarga Ashyfa merasa ditinggalkan oleh tetangga yang sebelumnya bersahabat.

Pola Teror Tetangga yang Tidak Berubah

Kasus konflik antara warga Depok dan tetangganya terus berlangsung dengan pola yang sama. Tindakan penghinaan dan gangguan psikologis menjadi bagian dari rutinitas, sementara upaya mediasi tidak pernah berhasil. “Meskipun sudah diomongin baik-baik, perjanjian tetap dilanggar,” katanya. Ashyfa menambahkan bahwa tetangganya terus-menerus menyalahkan keluarga mereka, bahkan menyebarkan berita negatif di lingkungan sekitar.

Kondisi ini memicu kecurigaan bahwa konflik tetangga ini tidak hanya bersifat individu, tetapi juga terkait dengan masalah sosial yang lebih luas di Depok. Para warga yang tinggal di sekitar Gang At-Taufik mengatakan bahwa mereka sering mendengar keluhan dari korban tentang teror yang diterima. “Warga di sini merasa tidak aman, karena tak tahu kapan teror akan datang,” ujar salah satu tetangganya. Pihak kepolisian juga sedang mempelajari kasus ini untuk mencari identitas pelaku dan menindaklanjuti laporan yang telah dibuat.

Analisis Situasi dan Harapan Masa Depan

Kasus warga Depok diteror tetangga sejak 2017 menunjukkan bagaimana konflik kecil bisa berkembang menjadi bentuk gangguan yang memengaruhi kesehatan mental. Selain itu, ini menjadi contoh bagaimana pentingnya penegakan hukum di tingkat lokal. Ashyfa berharap pihak berwajib dapat memberikan perlindungan yang lebih baik dan menyelesaikan konflik secara adil. “Saya hanya ingin hidup tenang di Depok, bukan dihantui terus-menerus,” harapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *