Bahlil Yakin Harga Hidrogen Makin Murah, Bersaing dengan Baterai EV
Kabarnusantaraku.com – Bahlil Yakin Harga Hidrogen Makin Murah dan kompetitif dalam beberapa tahun ke depan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa harga hidrogen sebagai bahan bakar berpotensi turun secara signifikan. Komoditas ini diperkirakan mampu bersaing ketat dengan harga baterai kendaraan listrik. Pengembangan hidrogen menjadi prioritas dalam peta jalan hilirisasi energi nasional mengingat kebutuhan dunia yang terus meningkat.
Proses produksi hidrogen di Indonesia memiliki berbagai jalur yang dapat dikembangkan. Bahan baku utamanya meliputi air, pembangkit listrik, blok migas, hingga batu bara dengan kalori rendah. Bahlil menyoroti proyeksi peningkatan produksi gas alam Indonesia yang diprediksi melonjak hingga 150 persen dalam lima tahun ke depan. Peningkatan ini didorong oleh penemuan cadangan gas raksasa milik ENI di Selat Makassar yang mencapai 7 TCF, serta proyek Blok Masela yang dikelola Inpex Corporation di Provinsi Maluku.
Selain cadangan gas, Indonesia juga memiliki potensi energi air yang sangat besar. Sungai Mambramo di Papua mampu menghasilkan energi listrik sebesar 21 gigawatt (GW), sementara Sungai Kayan di Kalimantan Utara memiliki potensi mencapai 14 GW. Bahlil menekankan bahwa masih banyak peluang lain yang dapat digarap untuk mendukung industri hidrogen nasional.
Masih banyak potensi-potensi lain yang bisa kita garap untuk menunjang industri hidrogen. Problemnya adalah tantangan hidrogen ini memang biayanya masih mahal dibandingkan dengan Produk energi lain.
Ungkapan tersebut disampaikan Bahlil saat menghadiri acara Global Hydrogen Ecosystem 2026 pada Selasa (21/7). Namun, ia optimis bahwa kombinasi antara potensi produksi yang melimpah dan pengembangan teknologi yang lebih efisien akan membuat harga hidrogen semakin kompetitif. Dalam jangka waktu lima tahun ke depan, pemanfaatan hidrogen di sektor transportasi diharapkan dapat meningkat secara masif guna menghemat konsumsi bahan bakar.
Bahlil juga menyoroti kondisi geopolitik global yang semakin tidak menentu. Perang yang terus terjadi membuat pasokan minyak dari blok-blok baru menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, ia meyakini bahwa harga hidrogen tidak akan lama lagi menjadi jauh lebih kompetitif dibandingkan sumber-sumber BBM minyak lainnya.
Integrasi Hidrogen dan Kendaraan Listrik
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menambahkan bahwa pengembangan hidrogen dan kendaraan listrik seharusnya berjalan beriringan. Keduanya memiliki konsep penggunaan yang berbeda namun saling melengkapi. Eniya menjelaskan bahwa kendaraan listrik (EV) lebih cocok untuk jarak tertentu dengan pengisian daya di rumah. Sebaliknya, hidrogen lebih ideal untuk perjalanan jarak jauh menggunakan teknologi fuel cell.
Konsepnya adalah EV itu kan untuk jarak yang tertentu dan lebih baik nge-charge di rumah. Nah kalau konsepnya hidrogen itu jarak jauh. Makanya kita sekarang tidak selalu harus mengikuti konsep yang dari Jepang atau Amerika, itu kan pakai fuel cell.
Indonesia saat ini mulai mengadaptasi teknologi hidrogen melalui mesin bus dengan sistem Hidrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF). Teknologi ini dinilai mampu menghemat penggunaan bahan bakar secara signifikan. Eniya menyebutkan bahwa pertama kali dilakukan pembakaran hidrogen yang diinjeksikan langsung ke dalam engine. Selain itu, penggunaan biosolar sebagai contoh dual fuel juga diterapkan. Dengan adanya tambahan pembakaran di engine, konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit hingga dua kali lipat.
Armada milik Perum Damri telah dimodifikasi untuk menggunakan kombinasi hidrogen dan solar. Bus tersebut dilengkapi dengan 16 tabung penyimpanan hidrogen, masing-masing berkapasitas 50 liter. Tabung-tabung ini memiliki tekanan nominal 200 bar dan tekanan kerja 150 bar. Sistem hidrogen dipasang pada bus Hino bermesin diesel enam silinder dengan kapasitas 7.684 cc.
Implementasi di Pembangkit Listrik
Selain sektor transportasi, implementasi hidrogen juga dilakukan pada program dedieselisasi pembangkit. Salah satu contohnya adalah PLTD Rengit di Kabupaten Belitung yang akan diubah menjadi PLTS dengan penyimpanan baterai. Proyek yang masih dalam masa uji coba selama enam bulan hingga satu tahun ini terbukti mampu menurunkan harga diesel di kawasan tersebut.
Pulau Rengit itu sudah bisa menurunkan harga diesel yang dipakai di pulau tersebut itu USD 1 lebih, atau Rp 20.000 per KWh, itu bisa menjadi 25 sen dengan menggunakan konsep elektrolisa menggunakan air menghasilkan hidrogen. Hidrogen dibuat lagi untuk dimasukkan ke baterai pada saat siang hari menggunakan PLTS.
Eniya menjelaskan bahwa konsep ini memanfaatkan air untuk menghasilkan hidrogen melalui elektrolisis. Hidrogen kemudian disimpan dan digunakan untuk mengisi baterai pada siang hari melalui panel surya. Langkah ini diharapkan dapat menurunkan biaya operasional pembangkit listrik secara signifikan dan mendukung transisi energi bersih di Indonesia.
