Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparanbisnis

Bank Sentral G7 Waspadai Minyak Sentuh USD 100, Pasar Nantikan Arah Suku Bunga

Joseph Garcia - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Para regulator moneter di negara-negara maju kini menghadapi tantangan baru. Bank Sentral G7 Waspadai Minyak yang kembali menyentuh level USD 100 per barel

Bank Sentral G7 Waspadai Minyak Sentuh USD 100, Pasar Nantikan Arah Suku Bunga

Bank Sentral G7 Waspadai Minyak Mendekati USD 100

Kabarnusantaraku.com – Para regulator moneter di negara-negara maju kini menghadapi tantangan baru. Bank Sentral G7 Waspadai Minyak yang kembali menyentuh level USD 100 per barel. Kenaikan harga komoditas energi ini menjadi pendorong utama risiko inflasi global. Investor saat ini menantikan arah kebijakan suku bunga dari anggota Kelompok Tujuh (G7) yang akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan.

Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan menyampaikan keputusannya terlebih dahulu pada hari Rabu. Keputusan tersebut kemudian akan diikuti oleh Bank of England (BoE) serta Bank of Japan (BoJ). Meskipun sebagian besar analis memprediksi tidak ada perubahan signifikan pada kebijakan moneter, para pelaku pasar akan sangat memperhatikan setiap sinyal yang dikeluarkan terkait ancaman inflasi dari sektor energi.

Ekspansi Kebijakan Moneter Dimungkinkan

Harapan pasar semakin kuat setelah Bank Sentral Eropa (ECB) memberikan indikasi bahwa ruang untuk kenaikan suku bunga masih terbuka. Saat ini, banyak pihak memperkirakan beberapa bank sentral dapat mulai menerapkan kebijakan yang lebih ketat mulai bulan September. Namun, pandangan ini belum sepenuhnya sesuai dengan proyeksi yang dibuat oleh para ekonom.

Kenaikan harga minyak yang sempat menyentuh level USD 100 per barel menjadi salah satu faktor risiko terbesar bagi stabilitas harga global. Angka ini terakhir kali tercapai sekitar dua bulan yang lalu. Selain minyak, investor juga memantau kenaikan harga gas, besarnya aliran dana ke sektor kecerdasan buatan (AI), serta dampak dari kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Kekhawatiran tersebut juga terlihat jelas di pasar obligasi global. Imbal hasil dari surat utang pemerintah di negara-negara G7 terus mengalami peningkatan. Sebagai contoh, yield obligasi pemerintah AS dengan tenor 30 tahun pada hari Jumat tercatat sedikit di bawah level tertingginya sejak tahun 2007.

Keputusan The Fed pada 29 Juli Menjadi Sorotan

Selain dari G7, lebih dari selusin bank sentral di berbagai negara juga akan mengumumkan kebijakan moneternya pada minggu depan. Investor akan menantikan berbagai data ekonomi penting, termasuk pertumbuhan ekonomi dan inflasi di kawasan euro, inflasi Tokyo, serta kinerja ekspor dari Korea Selatan.

Keputusan The Fed pada tanggal 29 Juli menjadi perhatian utama. Sebelumnya, pasar sempat menilai peluang kenaikan suku bunga menurun setelah data inflasi konsumen (CPI) AS pada bulan Juni tercatat lebih rendah dari perkiraan. Namun, memanasnya konflik di Timur Tengah mengubah sentimen karena mendorong harga minyak kembali naik.

Kondisi ini memicu spekulasi bahwa beberapa pejabat The Fed, seperti Presiden The Fed Dallas Lorie Logan dan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, akan mendorong kenaikan suku bunga. Di sisi lain, muncul pula dugaan bahwa Ketua The Fed Kevin Warsh dapat mengejutkan pasar dengan keputusan untuk menaikkan suku bunga.

“Kami memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga dengan nada hawkish. Warsh kemungkinan akan menegaskan bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan tetap membuka peluang kenaikan suku bunga pada September. Namun, data CPI yang lemah diperkirakan cukup untuk mencegah kenaikan suku bunga bulan ini,” tulis ekonom Bloomberg Economics Anna Wong, Andrew Sacher, dan Eliza Winger.

Sehari setelah pengumuman suku bunga, pemerintah AS dijadwalkan merilis data terbaru mengenai pertumbuhan ekonomi, indikator inflasi pilihan The Fed, dan belanja konsumen. Produk domestik bruto (PDB) AS diperkirakan tumbuh sebesar 2,1 persen secara tahunan pada kuartal II, yang didukung oleh konsumsi rumah tangga dan investasi bisnis.

Di kawasan Asia-Pasifik, pekan ini juga dipenuhi dengan berbagai pengumuman penting. Bank sentral Singapura dan Pakistan akan menyampaikan kebijakan suku bunga masing-masing. Sementara itu, Jepang akan merilis data produksi industri, penjualan ritel, tingkat pengangguran, serta inflasi Tokyo. Data inflasi di ibu kota Jepang tersebut dianggap sebagai petunjuk krusial sebelum Bank of Japan mengumumkan keputusan suku bunganya pada hari yang sama. Taiwan juga dijadwalkan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal II pada hari Jumat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *