Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparanbisnis

Harga Beras di Jepang Anjlok Usai Produksi Melimpah – tapi Permintaan Melemah

Daniel Lopez - kabarnusantaraku.com 3 mins read

pah Harga Beras di Jepang Anjlok Usai - Kenaikan produksi beras di Jepang yang signifikan telah menyebabkan harga beras mengalami penurunan tajam, meski

Harga Beras di Jepang Anjlok Usai Produksi Melimpah – tapi Permintaan Melemah

Harga Beras di Jepang Anjlok Usai Produksi Melimpah

Harga Beras di Jepang Anjlok Usai – Kenaikan produksi beras di Jepang yang signifikan telah menyebabkan harga beras mengalami penurunan tajam, meski permintaan dari konsumen belum pulih sepenuhnya. Dalam beberapa bulan terakhir, harga beras kemasan 5 kg di ritel modern berada di bawah 3.000 yen (sekitar Rp 332.210) termasuk pajak, menjadikan beras sebagai pilihan makanan pokok yang lebih terjangkau bagi warga Jepang. Namun, perubahan ini juga menimbulkan tantangan bagi para petani yang harus menghadapi penurunan pendapatan akibat surplus pasokan.

Pemicu Penurunan Harga Beras

Beras menjadi komoditas utama yang diproduksi di Jepang, terutama di wilayah seperti Hokkaido dan Tohoku. Pasokan yang meningkat tajam dikarenakan petani memperluas lahan tanam setelah melihat kenaikan harga beras sepanjang tahun 2025. Hasil panen tahun ini diperkirakan mencapai 7,33 juta ton, sedangkan permintaan hanya sekitar 7,11 juta ton. Perbedaan antara pasokan dan permintaan ini menyebabkan kelebihan stok yang menyulitkan petani untuk menjual hasil panen mereka secara efisien.

Kondisi ini juga memengaruhi dinamika pasar. Pemerintah Jepang menurunkan subsidi untuk beras dalam beberapa tahun terakhir, yang sebelumnya memberi keuntungan besar kepada para petani. Tanpa bantuan tersebut, biaya produksi yang tinggi memaksa petani menawarkan beras dengan harga lebih rendah untuk menarik pembeli. Dalam situasi seperti ini, harga beras di Jepang anjlok menjadi strategi yang diambil oleh produsen untuk mengurangi beban persediaan sebelum musim panen baru dimulai.

Dampak pada Ekonomi dan Konsumen

Penurunan harga beras di Jepang anjlok memberikan manfaat bagi konsumen, terutama masyarakat kelas menengah dan bawah yang lebih sensitif terhadap perubahan harga. Namun, para petani mengalami tekanan karena persaingan pasar yang ketat. Selain itu, tren perpindahan konsumen ke makanan pokok lain, seperti roti dan mi, juga memperparah penurunan permintaan terhadap beras. Hal ini menyebabkan stok beras yang menumpuk di pedagang grosir mencapai 1,8 juta hingga 2 juta ton.

Dari data Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, stok beras pada akhir Juni diperkirakan akan naik menjadi 2,34 juta ton, mencatatkan rekor tertinggi sejak tahun 2004. Peningkatan stok ini tidak hanya memengaruhi ekonomi pertanian, tetapi juga mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan konsumen di Jepang mulai bergeser ke makanan yang lebih praktis dan murah, seperti nasi bungkus atau makanan kemasan.

Beras merupakan bagian integral dari budaya makan Jepang, tetapi perubahan kondisi pasar membuatnya tidak lagi menjadi pilihan utama bagi semua kalangan. “Harga beras di Jepang anjlok bisa berdampak besar pada petani, terutama jika pasokan terus melimpah,” kata Profesor Katsuhito Fuyuki dari Universitas Tohoku, seperti yang dilaporkan Japan News, Sabtu (27/6).

Kebijakan pemerintah dalam mengatur harga beras juga memainkan peran penting. Sebelumnya, pemerintah menggunakan sistem pembelian khusus untuk memastikan harga beras tetap stabil. Namun, dengan produksi yang meningkat, kebijakan ini mulai tidak cukup efektif. Profesor Fuyuki menambahkan bahwa harga beras kemasan 5 kg pada tahun fiskal 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 3.000 yen hingga 3.500 yen, termasuk pajak. Jika produksi terus meningkat, harga bisa turun hingga di bawah 3.000 yen, menurut prediksi ekonomi lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *