Harga Daging Ayam dan Telur di Jepang Melonjak, Usaha Makanan Ganti Komposisi Bento
Harga Daging Ayam Telur di Jepang – Di tengah situasi inflasi global yang berkepanjangan, kenaikan harga daging ayam dan telur di Jepang semakin terasa. Fenomena ini telah mengakibatkan perusahaan penyedia makanan, seperti Kiyoken Co., merevisi komposisi menu bento mereka untuk mengurangi biaya produksi.
“Selain bahan makanan, banyak barang lain seperti bahan kemasan juga semakin mahal. Ditambah dampak fluktuasi nilai tukar, kami terus merasakan beban berat dari keseluruhan biaya pengadaan,”
kata juru bicara perusahaan tersebut. Perubahan ini terjadi setelah harga ayam melonjak, sehingga mereka mengganti lauk populer sebelumnya, yaitu ayam saus cabai, dengan udang saus cabai.
Penyebab Kenaikan Harga Ayam dan Telur di Jepang
Kenaikan harga daging ayam dan telur di Jepang tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan pasar, tetapi juga oleh berbagai faktor eksternal. Menurut data Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, harga rata-rata eceran paha ayam pada Juni mencapai 155 yen (sekitar Rp 17.125) per 100 gram, mencetak rekor tertinggi sejak 2003. Perusahaan Kiyoken, yang sebelumnya telah menaikkan harga seluruh produk bentonya pada Februari lalu, kembali memperbarui menu Yokohama Fried Rice yang dijual seharga 890 yen (sekitar Rp 98.000) termasuk pajak. Pembaruan ini menjadi perubahan pertama dalam sekitar 20 tahun.
Dalam studi yang dilakukan Sompo Institute Plus Inc, Masato Koike mengungkapkan bahwa kenaikan harga ayam terutama dipicu oleh kenaikan biaya pakan dan energi yang diakibatkan oleh situasi krisis di Timur Tengah. Selain itu, fluktuasi nilai tukar yen terhadap dolar juga memengaruhi biaya impor, terutama dari negara-negara seperti Tiongkok dan Indonesia. Dengan harga daging ayam dan telur yang semakin tinggi, industri F&B di Jepang terpaksa mengoptimalkan pengadaan bahan baku agar tetap kompetitif.
Dampak Kenaikan Harga pada Industri F&B
Kenaikan harga daging ayam dan telur tidak hanya memengaruhi konsumen, tetapi juga mengguncang strategi bisnis di sektor makanan. Usaha kecil dan menengah, khususnya di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, mulai mengalami tekanan karena biaya produksi yang meningkat. Beberapa restoran menyusun ulang menu bento mereka, memprioritaskan bahan-bahan yang lebih murah namun tetap menarik konsumen. Sebagai contoh, penggunaan udang sebagai pengganti ayam menawarkan alternatif yang lebih terjangkau, terutama bagi pelanggan yang ingin menghemat anggaran.
Banyak pelaku usaha F&B juga mulai memperkenalkan opsi menu berbasis protein alternatif, seperti ikan atau tahu, untuk mengimbangi kenaikan harga daging ayam. Namun, perubahan ini tidak sepenuhnya menyenangkan bagi pelanggan, karena variasi rasa dan kebiasaan makan yang berbeda. Meski demikian, upaya ini menjadi bagian dari adaptasi terhadap kondisi ekonomi yang berubah. Menurut analisis, kenaikan harga daging ayam dan telur di Jepang memperkuat kebutuhan untuk inovasi dalam pengadaan bahan baku.
Menyusul kenaikan ini, Menteri Pertanian Jepang, Norikazu Suzuki, menjelaskan bahwa peningkatan permintaan menyebabkan kenaikan harga ayam impor. Ia menambahkan, sebagian pelaku usaha restoran beralih ke ayam lokal, yang turut memengaruhi harga di pasar domestik. Dalam konteks ini, harga daging ayam dan telur di Jepang menjadi indikator penting bagi kestabilan rantai pasok dan keberlanjutan usaha makanan.
Selain daging ayam, harga telur di Jepang juga berada di level tinggi. Kementerian menyebut rata-rata satu pak telur campuran 10 butir mencapai 309 yen (sekitar Rp 34.138), sejajar dengan rekor Mei. Namun, Asosiasi Perunggasan Jepang memproyeksikan harga telur akan kembali normal pada musim panas tahun ini setelah pasokan ayam petelur pulih dari dampak wabah flu burung. Meski demikian, kenaikan harga daging ayam dan telur di Jepang masih menjadi sorotan utama bagi industri makanan dan konsumen sehari-hari.
