Indeks IHSG Terbang 20 Persen dari Titik Rendah Juni, Didorong Sejumlah Faktor Positif
Kabarnusantaraku.com – IHSG Melesat 20 Persen dari Level Terendah yang Tercatat pada Awal Bulan. Pergerakan positif di pasar saham Indonesia kini mengarahkan IHSG ke arah potensi bull market yang lebih luas. Kondisi ini ditandai dengan kenaikan harga saham yang berlangsung signifikan dalam periode panjang. Berdasarkan data Bloomberg, momentum naik tersebut ditopang oleh perpindahan investor ke saham-saham yang sebelumnya tertinggal, sekaligus berkurangnya kekhawatiran soal kondisi fiskal nasional. Pada Kamis, 23 Juli, IHSG mencatatkan kenaikan 1,5 persen. Sejak menyentuh level terendah di awal bulan Juni, indeks ini telah melonjak sebesar 20 persen, menunjukkan kepercayaan pasar yang mulai pulih secara bertahap.
Laporan Bloomberg yang dikutip kumparan pada Kamis (23/7) menyebutkan bahwa saham-saham kapitalisasi besar di sektor komoditas menjadi kontributor utama penguatan. PT Amman Mineral Internasional dan PT Barito Renewables Energy masuk dalam kategori penyumbang terbesar bagi indeks. Sentimen di pasar modal domestik yang sempat menjadi yang terburuk di dunia sepanjang tahun ini mulai menunjukkan perbaikan. Faktor pendukungnya meliputi penurunan harga minyak, kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebanyak 50 basis poin secara kumulatif pada Juni, serta keputusan S&P Global Ratings untuk mempertahankan peringkat dan prospek kredit Indonesia.
Investor Asing Mulai Kembali Optimis
Mohit Mirpuri, partner di SGMC Capital Pte dari Singapura, memberikan pandangannya mengenai kondisi pasar. Ia menyatakan bahwa level terendah pada 8 Juni kemungkinan besar akan bertahan, karena pasar saat ini lebih memperhitungkan stabilitas daripada pemburukan. Dengan porsi kepemilikan investor di Indonesia yang masih tergolong rendah, menurutnya risiko menunda masuk hingga pasar pulih kini lebih besar dibandingkan risiko masuk lebih awal secara selektif. Hal ini sejalan dengan tren IHSG Melesat 20 Persen yang menunjukkan pemulihan signifikan dari titik terendah.
Para pelaku pasar mengidentifikasi upaya pemerintah dalam memulihkan kepercayaan sebagai pendorong utama reli ini. Bank Indonesia mengejutkan pasar dengan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen pada Rabu, 22 Juli. Selain itu, BI meluncurkan serangkaian insentif untuk menarik aliran modal masuk dan memperkuat nilai tukar rupiah. Pejabat pemerintah juga dinilai meningkatkan disiplin fiskal, termasuk penyesuaian skala program makan siang gratis. Langkah-langkah ini memberikan sinyal positif bagi investor asing yang mulai kembali ke pasar Indonesia.
Nilai Tukar dan Imbal Hasil Surat Utang Meningkat
Rupiah menguat lebih dari 1 persen pada Kamis dibandingkan rekor terendahnya di awal Juni. Sementara itu, imbal hasil surat utang negara tenor 10 tahun turun lebih dari 10 basis poin dari level tertinggi tiga tahun yang dicapai pada akhir bulan lalu. Dengan kenaikan 14 persen sepanjang bulan ini, IHSG berhasil mengungguli berbagai indeks acuan global. Penguatan ini juga didorong oleh sentimen positif terhadap kebijakan ekonomi yang lebih terukur dan transparan.
Kekhawatiran mengenai penurunan status masih membayangi pasar. Meskipun baru saja mengalami reli, IHSG masih mencatatkan penurunan sekitar 26 persen sepanjang tahun berjalan. Hal ini terjadi seiring berlanjutnya kekhawatiran terkait transparansi pasar dan arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto. MSCI Inc. masih harus mengambil keputusan akhir pada November mendatang mengenai kemungkinan penyesuaian status saham Indonesia menjadi frontier market atau pasar perintis. Tinjauan serupa juga dilakukan oleh S&P Dow Jones Indices yang sempat memberikan sinyal kemungkinan reklasifikasi.
Data aliran dana menunjukkan manajer investasi global masih bersikap hati-hati. Investor asing terus mencatatkan jual bersih secara harian, mingguan, bulanan, maupun tahunan. Meski asing telah menarik dana sebesar 161 juta dolar AS bulan ini, aksi jual tersebut mulai mereda dibandingkan arus keluar Juni yang mencapai lebih dari 1 miliar dolar AS. Pasar dinilai belum memperhitungkan langkah-langkah reformasi untuk mencegah penurunan status indeks. Namun, tren IHSG Melesat 20 Persen memberikan harapan bahwa pemulihan akan berlanjut.
Posisi underweight dari investor jangka panjang masih cukup besar, ungkap Rajiv Batra, co-head for global emerging markets equity strategy JPMorgan Chase & Co., dalam wawancara bersama Bloomberg TV.
Begitu pasar mulai meyakini bahwa Indonesia tetap bertahan di indeks emerging markets dan MSCI merestui langkah para pembuat kebijakan, saya pikir aliran modal masuk akan kembali ke Indonesia. Dan reli saham Indonesia akan menjadi jauh lebih berkelanjutan, tambahnya.
