Key Discussion: Harga Telur Peternak Naik 5% karena Permintaan Tinggi
Key Discussion – Dalam laporan terbaru, harga telur di tingkat peternak mengalami kenaikan 5 persen, dipicu oleh meningkatnya permintaan di pasar. Organisasi Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya mencatat bahwa harga telur saat ini berada di kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kg, meningkat dari Rp 17.000 hingga Rp 18.000 per kg sebelumnya. Meski belum mencapai Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp 24.000 per kg, tren ini mengisyaratkan perubahan signifikan dalam dinamika harga.
“Kemarin harganya sekitar Rp 17.000 sampai Rp 18.000. Sekarang sudah naik ke Rp 20.000 hingga Rp 21.000. Jadi memang ada pertumbuhan harga. Dulu ada program stunting, mungkin nanti bisa dibuat pola yang serupa. Konsepnya sedang dibahas, September aplikasinya. Saya rasa ini bisa mengatasi masalah,” kata Parjuni dalam pernyataannya, Sabtu (18/7).
Menurut data Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga telur ayam ras di tingkat peternak nasional pada 16 Juli 2026 naik 2,2 persen dibandingkan satu minggu sebelumnya. Harga yang sebelumnya Rp 22.495 per kg kini mencapai Rp 22.989 per kg. Di Sulawesi Utara, harga telur sudah melebihi HAP sebesar Rp 26.500 per kg, yakni Rp 27.067 per kg, sementara di Banten, harga masih berada di bawah HAP, sekitar Rp 21.250 per kg.
Pengaruh Momentum Bulan Suro dan Penghentian MBG
Parjuni menjelaskan bahwa kenaikan harga telur dipengaruhi oleh dua faktor utama: momentum bulan Suro dan penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah. “Mungkin karena bulan Juni yang lalu, yaitu Suro. Di Jawa harga sedikit turun, ditambah program MBG dimatikan. Itu menyebabkan permintaan masyarakat menurun,” ujarnya.
Menurut Key Discussion, penghentian MBG pada akhir Juni 2026 berdampak langsung pada permintaan telur di pasar. Dengan adanya bulan Suro, konsumsi pangan lokal menurun, sehingga pasokan di tingkat peternak mengalami tekanan. Namun, seiring memasuki bulan Juli, permintaan kembali meningkat, yang menjadi faktor utama dalam menstabilkan harga.
Kontinuasi Program Bantuan Pangan untuk Meningkatkan Stabilitas
Dalam pelaksanaan program bantuan pangan, Bapanas bersama ID FOOD melalui Kementerian BUMN pada 2023 dan 2024 memberikan bantuan 1 kg daging ayam dan 10 butir telur per bulan selama tiga bulan kepada 1,4 juta keluarga. Ribuan peternak rakyat serta pelaku UMKM terlibat dalam kegiatan tersebut. Hingga 2024, total peternak yang terlibat mencapai 8.778, terdiri dari 6.895 peternak ayam petelur dan 1.883 peternak ayam broiler.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengungkapkan bahwa rencana melanjutkan program bantuan pangan telur dan daging ayam tahun ini masih menunggu keputusan pemerintah. “Bantuan pangan telur dan daging ayam belum ada keputusan Rakortas. Tentu nanti kita masih menunggu. Jika dimungkinkan, program ini akan dilanjutkan,” katanya.
Key Discussion menyoroti bahwa perubahan harga telur dan ayam broiler di tingkat peternak menunjukkan pergeseran tren positif. Peningkatan permintaan masyarakat, khususnya setelah dimulainya kembali program MBG, menjadi pendorong utama kenaikan harga. Hal ini memperlihatkan hubungan langsung antara kebijakan pemerintah dan dinamika pasar pangan.
Berdasarkan data Bapanas, rata-rata harga ayam broiler hidup di tingkat peternak nasional per 16 Juli 2026 naik 5,53 persen dibandingkan sepekan sebelumnya. Harga yang sebelumnya Rp 20.878 per kg kini mencapai Rp 22.032 per kg. Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan harga terendah, yakni Rp 19.500 per kg, sementara Riau mencatat harga tertinggi sebesar Rp 26.000 per kg.
Di tingkat konsumen, harga daging ayam ras juga naik, meski masih di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp 40.000 per kg. Kenaikan ini menunjukkan adanya dinamika pasar yang memengaruhi permintaan dan penawaran. Key Discussion mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah, seperti program bantuan pangan, penting dalam mengurangi volatilitas harga dan mendukung keberlanjutan produksi peternakan lokal.
