Latest Program: Bahlil Ceritakan Alasan Blok Masela Kembali Digarap Setelah Mandek 28 Tahun
Latest Program – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka pembicaraan tentang alasan proyek pengembangan Blok Masela akhirnya memasuki fase konstruksi setelah tertunda selama 28 tahun. Kesepakatan untuk membangun kilang darat di darat, bukan di laut, menyelesaikan konflik yang memperumit proses ini. Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat menghadiri acara groundbreaking Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis (16/7). Proyek ini sekarang dianggap sebagai bagian dari Latest Program yang memprioritaskan pengembangan energi domestik.
Perjalanan Proyek yang Panjang
“Hari ini adalah tanda dimulainya proyek Blok Masela yang sempat terhenti selama hampir tiga dekade. Selama 28 tahun, kita menunggu momen yang tepat untuk memulai konstruksi,” ujar Bahlil. Ia menekankan bahwa perubahan arah dari kilang terapung ke kilang darat menjadi kunci keberhasilan proyek ini.
Pembangunan Blok Masela sebenarnya telah siap sejak periode 2015-2016. Namun, konflik terkait skema kilang—apakah di darat atau di laut—menghambat kemajuan. Kesepakatan akhir tercapai setelah arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto mengarahkan keputusan pembangunan kilang darat. “Dengan dukungan Bapak Presiden, kita bisa menyelesaikan konflik ini dan melanjutkan proyek sebagai bagian dari Latest Program,” tambah Bahlil.
Pengembangan Berkelanjutan dan Infrastruktur yang Dibangun
Tahap pertama tender konstruksi sedang berlangsung, mencakup pembangunan pagar keliling dan akses jalan sekaligus berjalan paralel dengan pembangunan pelabuhan, storage, dan infrastruktur pendukung lainnya. Tantangan terbesar proyek ini adalah pengembangan pipa bawah laut sepanjang sekitar 180 kilometer yang menghubungkan lapangan gas di Laut Arafura dengan kilang darat. Bahlil menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya membutuhkan teknologi tinggi, tetapi juga kolaborasi dan komitmen dari berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat dan agama.
Blok Masela telah menjadi fokus pembicaraan sejak kontrak bagi hasil (PSC) ditandatangani pada 16 November 1998 dan berlaku hingga 2055. Durasi 28 tahun membuat proyek ini menjadi bagian dari Latest Program yang bertujuan mempercepat pengembangan sumber daya alam nasional. Perubahan skema kilang darat ini juga diikuti oleh keluarnya Shell dari konsorsium, yang sebelumnya terlibat bersama INPEX. Kini, proyek ini dioperasikan oleh INPEX Masela Ltd. dengan partisipasi 65%, disusul Pertamina Hulu Energi Masela (20%) dan Petronas Masela Sdn. Bhd. (15%).
Kelancaran groundbreaking Blok Masela diharapkan menjadi titik balik bagi Latest Program, yang mencakup proyek strategis nasional lainnya. Proyek ini akan menghasilkan cadangan gas sebesar 6,97 triliun kaki kubik (TCF) dan kapasitas produksi LNG hingga 9,5 juta ton per tahun. Selain itu, proyek ini juga bisa menghasilkan gas pipa domestik 150 MMscfd dan kondensat 35.000 barel per hari. Dengan kemajuan ini, target first gas pada 2029-2030 semakin terjangkau.
Bahlil mengatakan bahwa Latest Program ini memberikan momentum baru bagi pengembangan Blok Masela. “Ini bukan hanya proyek energi, tapi juga simbol keberhasilan kolaborasi nasional dan kepercayaan investor,” ungkapnya. Proyek ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga mendukung kebutuhan energi nasional dalam jangka panjang. Pemerintah berharap proyek ini menjadi contoh terbaik dari Latest Program dalam mempercepat pembangunan infrastruktur energi.
Dengan memulai konstruksi Blok Masela, pemerintah menegaskan komitmen terhadap Latest Program sebagai salah satu kebijakan prioritas. Proyek ini tidak hanya melibatkan perusahaan-perusahaan energi, tetapi juga kerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Bahlil menyoroti peran komunitas dalam memberikan dukungan dan partisipasi aktif. “Kolaborasi masyarakat adalah faktor penting dalam memastikan proyek ini berjalan lancar,” tuturnya.
