Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparanbisnis

Latest Program: Pertamina dan Boeing Teken Kemitraan Pengembangan Rantai Pasok Bioavtur

Mary Davis - kabarnusantaraku.com 4 mins read

Latest Program: Pertamina dan Boeing Kolaborasi untuk Penguatan Rantai Pasok Bioavtur Latest Program - PT Pertamina (Persero) dan Boeing kembali mengukuhkan

Latest Program: Pertamina dan Boeing Teken Kemitraan Pengembangan Rantai Pasok Bioavtur

Latest Program: Pertamina dan Boeing Kolaborasi untuk Penguatan Rantai Pasok Bioavtur

Latest Program – PT Pertamina (Persero) dan Boeing kembali mengukuhkan komitmen mereka melalui penandatanganan perjanjian kerja sama (MoU) yang fokus pada pengembangan rantai pasok Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur di Indonesia. Kesepakatan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkuat kapasitas bahan bakar penerbangan berkelanjutan, terutama di tengah tantangan pasokan bahan bakar fosil yang semakin tidak menentu akibat dinamika geopolitik global. Dalam kesempatan Indonesia Aero Summit 2026, Rabu (8/7), Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menekankan pentingnya peningkatan produksi SAF sebagai bagian dari Latest Program yang bertujuan menjaga ketahanan energi nasional.

Sejarah Kontribusi Boeing dalam Rantai Pasok SAF

Sejak 2008, Boeing telah aktif dalam industri SAF, terutama melalui kemitraan dengan Virgin Atlantic dan GE Aviation. Perusahaan ini menciptakan penerbangan komersial pertama di dunia menggunakan campuran bioavtur dari minyak babassu, minyak kelapa, serta bahan bakar jet biasa. “Latest Program ini menjadi peluang baru bagi kami untuk berkembang bersama Pertamina, yang telah menunjukkan komitmen kuat dalam inovasi bahan bakar berkelanjutan,” kata Simon dalam pidatonya. Kemitraan ini diharapkan mendorong peningkatan skala produksi dan penggunaan SAF di Indonesia.

“Kemitraan dengan Pertamina adalah bagian dari komitmen Boeing selama 77 tahun di Indonesia, yang mencakup penerbangan, pertahanan, satelit, modernisasi lalu lintas udara, keselamatan, dan pembinaan talenta,” tambah Indra Duivenvoorde, Managing Director Boeing Indonesia.

Langkah Strategis dalam Pengembangan Ekosistem SAF

Pertamina dan Boeing memandang kemitraan ini sebagai bagian dari Latest Program yang bertujuan membangun ekosistem SAF yang lebih kuat di Asia Tenggara. Dalam diskusi, kedua pihak sepakat bahwa keberhasilan pengembangan bioavtur memerlukan integrasi antara sumber bahan baku, teknologi canggih, sertifikasi, serta partisipasi maskapai penerbangan. “Kami sangat bangga karena Pertamina memilih Boeing sebagai mitra tepercaya dalam Latest Program ini,” tambah Indra. Kerja sama ini juga mencakup pengumpulan bahan baku SAF dan analisis rantai pasok melalui program Boeing University Innovation Leadership Development (BUILD) bersama Institut Teknologi Bandung.

Menurut Simon, Pertamina telah menghasilkan bioavtur melalui Kilang Cilacap, yang menggunakan bahan baku seperti minyak sawit, minyak goreng bekas, dan limbah daur ulang lainnya. Produk SAF ini telah diuji dalam penerbangan komersial dengan Garuda Indonesia dan Pelita Air Service. Dengan produksi yang terus ditingkatkan, Pertamina berharap mampu menjamin pasokan SAF yang stabil dan ekonomis, sekaligus mendukung kebijakan pemerintah dalam transisi energi hijau.

Manfaat dan Tujuan Latest Program

Latest Program ini diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan emisi karbon dalam sektor penerbangan. SAF memiliki potensi mengurangi emisi hingga 80 persen dibanding bahan bakar konvensional, menjadikannya solusi utama untuk keberlanjutan lingkungan. Selain itu, kolaborasi dengan Boeing juga membuka peluang peningkatan kapasitas produksi dan ekspor bioavtur ke pasar internasional. “Kami optimis bahwa Latest Program ini akan menjadi fondasi untuk inovasi dan keberlanjutan industri penerbangan di Indonesia,” jelas Indra.

Indra menyoroti pertumbuhan pesat pasar penerbangan di Asia Tenggara, yang mencapai kenaikan 7 persen per tahun. Dengan proyeksi kebutuhan 4.800 pesawat hingga 2044, Indonesia dinilai berpotensi menjadi pusat pengembangan penerbangan berkelanjutan. Kemitraan dengan Pertamina menjadi langkah penting dalam mewujudkan tujuan ini. “Latest Program ini juga akan memperkuat peran Boeing sebagai mitra teknologi dan inovasi dalam industri penerbangan,” tambahnya.

Menurut Simon, Pertamina telah menyiapkan infrastruktur dan sumber daya yang dibutuhkan untuk memastikan produksi SAF berjalan efisien. Dengan dukungan teknologi Boeing, perusahaan mengharapkan peningkatan kualitas produk serta penguatan regulasi yang mendukung penggunaan bahan bakar berkelanjutan. Kemitraan ini juga menjadi bagian dari upaya mencapai target pengurangan emisi sektor penerbangan sebesar 100 persen pada 2050, sejalan dengan komitmen global untuk peningkatan keberlanjutan lingkungan.

Kemitraan untuk Penguatan Keberlanjutan Energi

Latest Program antara Pertamina dan Boeing tidak hanya fokus pada produksi SAF, tetapi juga pada pengembangan infrastruktur dan sertifikasi yang mendukung penggunaan bahan bakar berkelanjutan. Dalam rangka meningkatkan aksesibilitas, kedua pihak sepakat untuk mengintegrasikan teknologi produksi serta memperluas jaringan pasokan di berbagai wilayah Indonesia. “Kami ingin memastikan bahwa bioavtur bisa diterapkan secara luas, baik oleh maskapai domestik maupun internasional,” ujar Simon. Proyeksi kebutuhan bioavtur di Indonesia diperkirakan mencapai 1,5 juta ton per tahun, dan kemitraan ini akan membantu mencapai target tersebut.

Menurut Indra, kolaborasi dengan Pertamina juga akan mendukung inisiatif pemerintah dalam mempercepat transisi energi hijau. “Latest Program ini menjadi wujud nyata dari komitmen bersama untuk menciptakan solusi yang ramah lingkungan dan ekonomis,” katanya. Dengan pengembangan rantai pasok yang lebih efisien, Boeing dan Pertamina optimis mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menumbuhkan industri SAF yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *