Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparanbisnis

Solving Problems: Bahlil Pastikan Proyek Kilang Tuban Pertamina-Rosneft Masih Berjalan

Mary Davis - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Bahlil Pastikan Proyek Kilang Tuban Pertamina-Rosneft Masih Berjalan Solving Problems - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia

Solving Problems: Bahlil Pastikan Proyek Kilang Tuban Pertamina-Rosneft Masih Berjalan

Bahlil Pastikan Proyek Kilang Tuban Pertamina-Rosneft Masih Berjalan

Solving Problems – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa proyek pembangunan kilang minyak Grass Root Refinery Tuban (GRR Tuban) yang bekerja sama antara PT Pertamina dan PT Rosneft tetap berjalan. Proyek ini dirancang sebagai bagian dari strategi pengembangan energi nasional, dengan kapasitas pengolahan utama sebesar 15 juta ton per tahun (MMTA). Sebagian dari kapasitas tersebut akan digunakan untuk produksi petrokimia, termasuk etilen 1 MMTA dan hidrokarbon aromatik 1,3 MMTA. Meski menghadapi berbagai tantangan, Bahlil menegaskan bahwa keberlanjutan proyek ini adalah prioritas utama.

Target Penyelesaian Proyek GRR Tuban dan Proses Pengembangan

Target penyelesaian proyek GRR Tuban ditetapkan pada tahun 2025, meski tidak ada penjelasan rinci mengenai tahapan saat ini. Bahlil menjelaskan bahwa proyek tersebut masih dalam proses pengembangan, dengan Pertamina dan Rosneft terus berkomitmen untuk menyelesaikan masalah yang muncul. “Tanya saja ke Pertamina, karena ini merupakan kerja sama yang sangat strategis. Sejauh yang saya tahu, proyek masih aktif,” ujarnya saat ditemui di fasilitas Mini Liquefied Natural Gas (LNG) Plant PT Sumber Aneka Gas (SAG), dikutip pada Jumat (26/6).

“Memang mungkin proses FID-nya yang agak terlambat, karena ini kan proyek besar. Saya tidak melihat ada kendala-kendala lain, mungkin perhitungan tender EPC-nya yang membuat sedikit tertunda,” tambah Hermansyah, Corporate Secretary Kilang Pertamina Internasional.

Kemitraan dan Struktur Kerja Sama

Proyek GRR Tuban dibangun melalui perusahaan patungan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP), yang didirikan pada November 2017. Dalam struktur kepemilikan, Pertamina menguasai 55 persen saham, sedangkan 45 persen dikuasai Rosneft. Proyek ini sempat mengalami hambatan akibat konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina serta sanksi dari Amerika Serikat (AS). Namun, Bahlil menegaskan bahwa kedua perusahaan terus berupaya solving problems untuk menjaga progres kerja sama tersebut.

Sementara itu, dalam wawancara terpisah, Hermansyah menjelaskan bahwa Pertamina dan Rosneft masih terikat dalam skema joint venture (JV). “Kita masih bersama Rosneft, dan tetap terikat dengan JV tersebut,” katanya saat di Jakarta Pusat, Senin (10/3/2025). Ia juga menambahkan bahwa perusahaan akan fokus pada solving problems terkait RDMP Balikpapan dan proyek GRR Tuban guna memastikan penyelesaian tepat waktu.

Langkah-Langkah Penyelesaian Tantangan Proyek

Solving Problems menjadi fokus utama dalam menghadapi berbagai hambatan yang muncul sepanjang proses pengembangan kilang Tuban. Meski sempat terganggu oleh dinamika geopolitik global, Pertamina dan Rosneft telah menunjukkan komitmen untuk mempercepat pengerjaan proyek. Proses tender EPC yang sedikit tertunda adalah salah satu tantangan yang sedang diatasi, dengan perusahaan memastikan bahwa perencanaan teknis tetap sesuai rencana awal.

Pertamina dan Rosneft juga mengupayakan koordinasi lebih intensif dengan pihak terkait, termasuk pemerintah dan lembaga internasional, untuk memastikan proyek tetap mendapat dukungan. Dalam konteks solving problems, kolaborasi antar sektor sangat penting, baik dalam hal logistik, teknologi, maupun regulasi. Hermansyah menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada penyelesaian konflik, tetapi juga pada peningkatan kualitas produksi dan efisiensi operasional untuk memperkuat daya saing di pasar global.

RDMP Balikpapan telah diresmikan pada 12 Januari 2026, dan Proyek GRR Tuban dijadwalkan selesai pada 2025. Proses solving problems terus berlangsung, termasuk mengatasi kesulitan dalam pengadaan teknologi dan perizinan. Proyek ini juga diharapkan menjadi contoh kerja sama internasional yang mampu menyelesaikan tantangan ekonomi dan politik secara bersamaan, sekaligus memberikan manfaat besar bagi perekonomian nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *