Australia Perkuat Impor Kakao dan Cokelat dari Indonesia
Program Khusus untuk Peningkatan Impor
Special Plan menjadi strategi utama yang diterapkan oleh Australia untuk meningkatkan volume impor biji kakao dan produk cokelat dari Indonesia. Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Matt Thistlethwaite, mengungkapkan bahwa negara ini menargetkan peningkatan ekspor Indonesia sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan industri pangan di Australia. Dengan Special Plan, Australia berharap dapat memperkaya pasokan bahan baku dan bahan olahan cokelat yang berasal dari Indonesia, yang telah lama menjadi mitra strategis dalam perdagangan ekonomi bilateral.
Kebutuhan konsumsi cokelat di Australia terus meningkat, mencapai sekitar 6 kilogram per orang per tahun, dengan total konsumsi nasional mencapai 160 ribu ton setiap tahun. Meski negara ini memiliki perkebunan kakao kecil di Queensland, konsumsi biji kakao tetap bergantung pada impor dari negara-negara seperti Peru, Papua Nugini, serta sejumlah negara Afrika. Dengan Special Plan, Australia berharap bisa mengoptimalkan potensi Indonesia sebagai produsen kakao terbesar keenam di dunia dan memperluas kerja sama dalam bidang ini.
Indonesia, yang merupakan salah satu produsen kakao terbesar di kawasan Asia Tenggara, telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam produksi dan hilirisasi produk cokelat. Ketersediaan bahan baku berkualitas tinggi serta kebijakan pemerintah yang mendukung ekspor, membuat negara ini menjadi pilihan utama untuk negara-negara yang ingin mengakses pasokan kakao yang stabil. Special Plan juga menargetkan kerja sama dalam pengembangan produk cokelat premium, yang merupakan bagian dari strategi jangka panjang Australia untuk memperkuat daya saing sektor pangan.
Strategi untuk Meningkatkan Posisi Ekspor Indonesia
Special Plan bukan hanya fokus pada peningkatan volume impor, tetapi juga memperkuat kualitas produk yang diekspor dari Indonesia. Pemerintah Australia melalui program ini berharap dapat mendorong pengembangan ekosistem industri cokelat yang berkelanjutan, termasuk dalam hal pengelolaan sumber daya alam dan pengurangan dampak lingkungan. Sebagai contoh, Australia menilai Indonesia memiliki potensi untuk menghasilkan biji kakao dengan standar produksi yang kompetitif, sehingga bisa menjadi pilihan utama untuk pasar internasional.
Dyah Roro Esti Widya Putri, Wakil Menteri Perdagangan Indonesia, menyatakan bahwa negara ini kini tidak hanya mengekspor bahan baku kakao, tetapi juga mampu menghasilkan produk cokelat premium yang siap dikirimkan ke berbagai negara, termasuk Australia. Special Plan berperan penting dalam memfasilitasi pertukaran teknologi dan praktik produksi yang dapat meningkatkan nilai tambah produk Indonesia. Selain itu, program ini juga menawarkan kesempatan bagi pengusaha Indonesia untuk memasuki pasar Australia yang terus berkembang, khususnya dalam sektor makanan ringan dan makanan fungsional.
Dalam wawancara khusus, Roro menjelaskan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan langkah-langkah konkret untuk memperkuat hubungan ekonomi bilateral. Ini mencakup pembukaan akses pasar yang lebih luas, pelatihan para pelaku usaha, serta pendampingan dalam hal pemenuhan standar kualitas internasional. Special Plan diperkirakan akan meningkatkan nilai perdagangan antara Indonesia dan Australia, yang sebelumnya mencapai USD 7,2 miliar pada 2020 dan diperkirakan akan mencapai USD 13 miliar pada 2025. Dengan dana AUD 40 juta yang dialokasikan dalam fase baru program ini, Australia menargetkan percepatan pertumbuhan ekspor Indonesia.
Program Katalis 2.0 dan Kemitraan Ekonomi Komprehensif
Sebagai bagian dari Special Plan, Indonesia dan Australia secara resmi meluncurkan Program Katalis 2.0 pada 13 Juli 2025. Program ini merupakan pengembangan dari Program Katalis 1.0, yang sebelumnya berfokus pada kebijakan perdagangan dan investasi. Katalis 2.0 dirancang untuk memperkuat hubungan dagang bilateral melalui kebijakan-kebijakan yang lebih strategis, seperti pengurangan hambatan tarif dan penguatan kerja sama sektor pangan.
Special Plan juga berfokus pada peningkatan kualitas produk Indonesia melalui hilirisasi. Pemerintah Australia berharap bahwa dengan pengembangan produk cokelat premium, Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pasar yang semakin beragam. Selain itu, program ini mencakup kerja sama dalam penelitian dan pengembangan inovasi, serta pendampingan bagi produsen lokal untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional.
Kemitraan ekonomi antara Indonesia dan Australia sudah terjalin selama puluhan tahun, dengan hasil yang cukup signifikan. Namun, Special Plan diharapkan bisa memperkuat keberlanjutan kerja sama tersebut, terutama dalam menghadapi tantangan global seperti kenaikan harga bahan baku dan perubahan preferensi konsumen. Dengan melibatkan sektor swasta, pemerintah, dan institusi pendidikan, program ini diharapkan bisa memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian kedua negara.
