Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparanbisnis

Topics Covered: BI: Likuiditas RI Cukup, Ekspansi Moneter Capai Rp 1.000 T hingga Juni 2026

Daniel Lopez - kabarnusantaraku.com 3 mins read

BI Pastikan Likuiditas RI Cukup, Ekspansi Moneter Capai Rp 1.000 T hingga Juni 2026 Penjelasan tentang Ekspansi Moneter dan Likuiditas Topics Covered - Bank

Topics Covered: BI: Likuiditas RI Cukup, Ekspansi Moneter Capai Rp 1.000 T hingga Juni 2026

BI Pastikan Likuiditas RI Cukup, Ekspansi Moneter Capai Rp 1.000 T hingga Juni 2026

Penjelasan tentang Ekspansi Moneter dan Likuiditas

Topics Covered – Bank Indonesia (BI) terus memastikan ketersediaan likuiditas dalam negeri tetap terjaga, terutama di tengah dinamika perekonomian global yang tidak stabil. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah melanjutkan ekspansi moneter dengan memperluas volume uang beredar hingga mencapai Rp 1.000 triliun pada akhir Juni 2026. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pada akhir Mei, ekspansi moneter mencapai Rp 600 triliun. Namun, sampai akhir Juni 2026, BI telah meningkatkan volume uang beredar hingga mencapai Rp 1.000 triliun,” jelas Destry dalam konferensi pers di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (29/6).

Ekspansi moneter ini bertujuan untuk mengimbangi kebutuhan likuiditas di pasar keuangan dan menjaga kepercayaan investor. Destry menekankan bahwa kebijakan tersebut dirancang agar tidak mengganggu inflasi, tetapi tetap mendukung pertumbuhan ekonomi. BI juga memperhatikan kondisi pasar uang dan valuta asing, terutama dalam menjaga nilai tukar rupiah yang terus menghadapi tekanan dari berbagai faktor eksternal.

Konteks Ekonomi dan Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Moneter

Topics Covered – Dalam upaya menjaga kestabilan, BI mengambil langkah ekspansif yang disesuaikan dengan kondisi perekonomian saat ini. Destry menegaskan bahwa kebijakan ini diperlukan karena adanya fluktuasi harga minyak global yang berdampak signifikan pada inflasi dan daya beli masyarakat. Selain itu, daya tarik investasi asing juga menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan moneter.

“Dengan langkah ini, kita berupaya memastikan likuiditas tetap terjaga agar tidak terjadi gangguan pada harga dan nilai tukar mata uang asing,” tambah Destry.

BI berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi. Ekspansi moneter hingga Rp 1.000 triliun pada akhir Juni 2026 diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap investasi dan permintaan dalam negeri. Namun, kebijakan ini juga memerlukan pengawasan ketat terhadap tingkat inflasi dan risiko peningkatan utang pemerintah.

Topics Covered – Kebijakan moneter berbasis likuiditas ini mencerminkan respons BI terhadap tantangan yang dihadapi perekonomian Indonesia. Destry menyebutkan bahwa ketersediaan likuiditas yang cukup akan membantu menstabilkan pertumbuhan ekonomi, terutama di tengah ketidakpastian global seperti krisis ekonomi di berbagai negara. Dengan memperluas volume uang beredar, BI berharap mendorong konsumsi dan investasi, sekaligus mencegah krisis likuiditas di sektor keuangan.

PeranDEN dalam Evaluasi Kinerja Ekonomi

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menilai bahwa kinerja ekonomi Indonesia tetap dalam kondisi yang memuaskan, meski menghadapi tekanan dari berbagai faktor. Rapat koordinasi fiskal-moneter antara DPR RI dan lembaga terkait menunjukkan bahwa fundamental perekonomian masih kokoh, terutama dalam hal pertumbuhan sektor riil dan daya beli masyarakat.

“Secara fundamental, ekonomi Indonesia cukup stabil. Akan tetapi, pelemahan rupiah yang terjadi lebih dari perkiraan kita harus tetap diperhatikan. Ini berdampak pada kepercayaan masyarakat dan stabilitas makroekonomi,” ujar Mari Elka Pangestu, Wakil Ketua DEN.

Topics Covered – Mari Elka Pangestu menambahkan bahwa meskipun BI telah memperkuat likuiditas, penguatan nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas utama. Penurunan nilai tukar rupiah bisa memperburuk inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat, sehingga BI terus memantau kondisi pasar valuta asing. Data Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah pada Senin (29/6) tercatat di Rp 17.859 per dolar AS, naik 63 poin atau 0,35 persen.

Moneter ekspansi yang dilakukan BI tidak hanya memperhatikan kebutuhan domestik tetapi juga mengantisipasi risiko eksternal. Destry Damayanti menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari upaya mengurangi ketegangan di sektor keuangan dan memastikan ketersediaan likuiditas di setiap tahap perekonomian. Penguatan ekspansi moneter juga didasari oleh persiapan menghadapi perubahan ekonomi yang bisa terjadi dalam waktu dekat.

Topics Covered – Selain mengelola likuiditas, BI juga fokus pada stabilitas harga dan nilai tukar mata uang asing. Dengan memperluas volume uang beredar hingga Rp 1.000 triliun hingga Juni 2026, BI berharap mendorong perekonomian tetap bergerak stabil. Namun, upaya ini harus disertai dengan pengawasan ketat terhadap tingkat inflasi dan risiko peningkatan utang pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *