Ekonomi China Tumbuh 4,3% di Kuartal II 2026, Terlemah dalam Tiga Tahun Terakhir
Topics Covered – Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS) mengungkapkan data pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan perlambatan signifikan, yaitu hanya 4,3% pada kuartal II 2026. Angka ini menjadi yang terendah dalam tiga tahun terakhir, meskipun pertumbuhan ekonomi semester pertama masih berada dalam rentang target pemerintah, yaitu 4,5–5%. Namun, kekhawatiran terus meningkat mengingat laju pertumbuhan kuartalan hanya 0,9%, yang termasuk terlemah dalam lebih dari dua tahun. Data ini mencerminkan tantangan yang dihadapi Tiongkok dalam mempertahankan momentum ekonomi.
Faktor Eksternal dan Internal yang Mempengaruhi
Data resmi yang diterbitkan pada Rabu (15/7) menunjukkan bahwa PDB Tiongkok berada di bawah batas bawah target resmi. Sebelumnya, ekonom Bloomberg memperkirakan pertumbuhan 4,5% untuk kuartal II, tetapi hasil akhirnya lebih rendah. Total pertumbuhan ekonomi semester pertama mencapai 4,7%, namun tekanan eksternal seperti perang dagang dan fluktuasi harga global, serta faktor internal seperti kebijakan moneter, menjadi penyebab utama perlambatan ini. Selain itu, surplus pasokan yang berkelanjutan masih menghantui sektor tertentu, menyebabkan deflasi yang memburuk.
Kinerja Sektor dan Respons Pemerintah
Pertumbuhan ekonomi yang melemah memicu respons dari pemerintah. Wakil Kepala NBS, Mao Shengyong, menjelaskan bahwa perubahan kecil di sektor pertambangan batu bara dan volatilitas pasar internasional berkontribusi besar pada penurunan ini. Namun, dia menegaskan bahwa fondasi ekonomi Tiongkok tetap stabil, dengan transformasi struktural yang sedang berlangsung. Kepala ekonom Standard Chartered, Ding Shuang, mengatakan bahwa kebijakan fiskal bisa dipercepat untuk mendukung investasi infrastruktur, sesuai dengan anggaran yang telah disetujui.
“Masih ada ruang untuk mempercepat belanja fiskal sesuai anggaran yang telah disetujui guna mendukung investasi infrastruktur. Pemerintah kemungkinan akan memprioritaskan implementasi kebijakan yang sudah ada,” ujar Ding Shuang, kepala ekonom Standard Chartered Plc, dikutip dari Bloomberg.
Analisis Sektor Kunci dan Tantangan
Di sisi lain, sektor kunci seperti penjualan ritel dan produksi industri menunjukkan performa yang berbeda. Penjualan ritel Tiongkok naik 1% tahunan di bulan Juni, setelah turun 0,6% di bulan Mei, sedangkan produksi industri mencapai pertumbuhan 5,3%. Namun, penjualan mobil mengalami penurunan lebih dari 16% selama semester pertama, sementara penjualan barang non-mobil naik 3%. Pertumbuhan penjualan ritel barang seperti alat elektronik rumah tangga menurun selama festival belanja daring “618,” menurut peramal dalam negeri.
Deflator PDB mencatatkan angka positif untuk pertama kalinya sejak awal 2023, tetapi kenaikan ini terutama didorong oleh biaya impor, bukan permintaan domestik yang masih lemah. Meski ada peningkatan, deflasi masih menjadi isu yang menghantui perekonomian. Di sisi ekspor, Tiongkok mencatatkan rekor tertinggi, didorong oleh permintaan global yang tinggi, tetapi ketegangan dagang dengan negara-negara lain tetap mengancam pertumbuhan jangka panjang.
Risiko Global dan Kebijakan untuk Masa Depan
Kondisi ekonomi global yang tidak stabil semakin menambah tekanan terhadap Tiongkok. Perang di Iran menyebabkan kenaikan harga energi yang membantu ekonomi negara ini keluar dari deflasi bertahun-tahun, tetapi kepercayaan konsumen dan pelaku usaha masih rendah. Ekonom Moody’s Analytics, Sarah Tan, menyoroti risiko eksternal yang semakin mengkhawatirkan, terutama karena ketergantungan pada pasar ekspor yang tinggi.
Respons dari pemerintah melalui kebijakan fiskal dan moneter menjadi fokus utama. Perdana Menteri Li Qiang menekankan pentingnya evaluasi kebijakan baru untuk meningkatkan pertumbuhan, sementara pasar merespons dengan sikap tenang. Yuan offshore menguat 0,1% sejak pengumuman data, namun imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun tetap stabil di level 1,73%. Meski begitu, data investasi aset menunjukkan penurunan 5,7% untuk semester pertama, yang lebih buruk dari perkiraan awal.
Kesimpulan dan Arus Selanjutnya
Pertumbuhan ekonomi yang melambat ini menunjukkan bahwa Tiongkok masih menghadapi tantangan signifikan, meskipun langkah-langkah kebijakan pemerintah telah menunjukkan arah. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan mencapai 4,5–5% untuk tahun 2026 masih terbuka, tetapi kecepatan dan konsistensi menjadi kunci. Dengan semangat Topics Covered, pemerintah perlu terus memantau dampak dari faktor internal dan eksternal, serta memperkuat transformasi struktural untuk memastikan keberlanjutan pertumbuhan dalam jangka panjang.
