Harga Minyak Menguat, Pasar Cermati Perkembangan di Selat Hormuz
Topics Covered: Harga minyak mentah kembali naik di tengah kekhawatiran pasar terhadap ketegangan geopolitik di Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak terjadi setelah pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance yang mengingatkan Israel untuk tidak melanjutkan serangan terhadap Hezbollah, kelompok utama yang didukung Iran di Lebanon. Dalam konteks ini, pasar menilai kehati-hatian dari AS sebagai faktor pendorong stabilisasi harga, meski perjanjian gencatan senjata antara kedua negara masih berlangsung.
Perjanjian AS-Iran dan Proyeksi Pemulihan Ekspor
Kesepakatan antara AS dan Iran yang mencakup 14 poin menetapkan masa negosiasi selama 60 hari, dengan target normalisasi ekspor minyak dalam 30 hari. Pasar memperkirakan pemulihan aliran minyak melalui Selat Hormuz akan memengaruhi harga global, karena area ini menjadi jalur utama pengiriman sekitar 20 persen dari pasokan minyak dunia. Dalam proyeksi Goldman Sachs, ekspor dari Teluk akan pulih ke level pra-perang sebelum akhir Juli, sementara produksi minyak diperkirakan kembali stabil pada Oktober.
“Pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz sudah dihitung pasar. Jika tidak tercapai, akan menjadi tantangan utama bagi kestabilan harga,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital.
Produksi minyak Iran saat ini terganggu akibat serangan Israel yang menghentikan pengoperasian kilang-kilang di wilayah tersebut. Untuk mengembalikan volume pengiriman ke 13 juta barel per hari, pasar menilai perlu peningkatan kapasitas 70 persen dari level sebelum perang. Dalam laporan BNP Paribas, harga minyak diperkirakan akan berada di kisaran USD 75 per barel dalam jangka pendek, meski permintaan global tetap tinggi.
Konsumsi China dan Dinamika Pasar Global
Konsumsi minyak China, sebagai negara kedua terbesar pengguna, diperkirakan mencapai 753 juta metrik ton pada 2026. Angka ini menurun 4,9 persen dibandingkan 2025, dipengaruhi peralihan ke energi alternatif dan kenaikan harga minyak. Meski demikian, ekspektasi permintaan global tetap optimis, dengan kebutuhan energi yang terus meningkat di sektor industri dan transportasi.
“China memainkan peran penting dalam menentukan arah pasar, terutama di tengah ketidakpastian pasokan dari kawasan Teluk,” kata analis ekonomi internasional dalam laporan terbaru.
Dalam pekan ini, kejadian terbaru seperti serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak Moskow menambah ketegangan di pasar. Tindakan tersebut dianggap sebagai bentuk pernyataan kekuatan militer Ukraina, yang bisa memengaruhi permintaan minyak di Eropa. Sementara itu, OPEC+ terus memantau pertumbuhan produksi untuk menjaga keseimbangan harga global.
Topik utama yang dibahas dalam artikel ini meliputi peningkatan harga minyak, dampak perjanjian AS-Iran terhadap pemulihan ekspor, dan proyeksi konsumsi energi di pasar global. Dengan adanya kehati-hatian dari berbagai pihak, pasaran minyak diperkirakan akan tetap terpantau secara ketat, terutama di Selat Hormuz yang menjadi pusat perhatian utama. Kenaikan harga minyak juga dipengaruhi oleh permintaan dari Asia, terutama negara-negara yang bergantung pada impor energi.
