Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparanbisnis

Visit Agenda: Prabowo Soroti Produktivitas Sawit RI hingga Impor Gandum

Emily Davis - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Visit Agenda: Prabowo Soroti Produktivitas Sawit RI hingga Impor Gandum Visit Agenda - Dalam rangkaian kegiatan Visit Agenda yang diadakan di JCC, Jakarta

Visit Agenda: Prabowo Soroti Produktivitas Sawit RI hingga Impor Gandum

Visit Agenda: Prabowo Soroti Produktivitas Sawit RI hingga Impor Gandum

Visit Agenda – Dalam rangkaian kegiatan Visit Agenda yang diadakan di JCC, Jakarta, pada Jumat (26/6), Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan saat memberikan kritik terhadap sektor pertanian dan manufaktur Indonesia. Acara Sarasehan Kebangsaan ini dihadiri oleh sekitar 261 rektor, dekan, dan dosen dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) serta Perguruan Tinggi Swasta (PTS), yang menjadi platform untuk mendiskusikan isu strategis dan kinerja sektor ekonomi kritis. Prabowo menggarisbawahi pentingnya meningkatkan produktivitas dalam negeri sebagai bagian dari agenda Visit Agenda, terutama dalam mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat kapasitas industri nasional.

Ketergantungan Impor Gandum: Masalah yang Perlu Diperbaiki

Salah satu topik utama yang dibahas dalam Visit Agenda adalah ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum. Meskipun negara ini memiliki potensi geografis dan iklim yang sesuai untuk pertanian gandum, Prabowo menyoroti keberhasilan pihak luar dalam menawarkan komoditas tersebut. Ia menanyakan kepada para profesor dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengapa Indonesia belum mampu menghasilkan benih gandum secara mandiri, yang menurutnya merupakan langkah krusial dalam mendorong ketahanan pangan nasional.

“Mengapa kita masih mengimpor gandum? Saya tanya kepada para profesor dari IPB, kenapa kita tak bisa punya benih sendiri?”

Kritik ini sejalan dengan agenda Visit Agenda yang bertujuan menggali potensi lokal dan mengurangi ketergantungan pada produk impor. Prabowo menekankan bahwa peningkatan produksi gandum tidak hanya tentang jumlah, tetapi juga kualitas benih dan teknologi pertanian yang digunakan. Ia berharap para akademisi dan pengambil kebijakan bisa memberikan solusi konkret untuk meningkatkan produksi dalam negeri.

Kelapa Sawit: Produk Unggulan yang Masih Belum Optimal

Dalam Visit Agenda, Prabowo juga menyoroti produktivitas kelapa sawit Indonesia yang, menurutnya, belum sebanding dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia. Meskipun Indonesia adalah penghasil minyak sawit terbesar di dunia, tingkat produksi per hektare masih tertinggal dari negara-negara lain yang memiliki kebijakan lebih efektif. Ia mempertanyakan mengapa hal ini terjadi dan menantikan jawaban dari para ahli pertanian yang hadir.

“Kenapa kelapa sawit di Malaysia lebih produktif daripada kita? Kenapa?”

Prabowo menganggap bahwa produktivitas sawit harus menjadi fokus utama dalam agenda Visit Agenda, karena komoditas ini memiliki potensi ekonomi besar. Ia menekankan perlunya investasi lebih besar dalam teknologi pertanian, pengelolaan lahan, dan kebijakan subsidi yang tepat sasaran. Dengan perbaikan ini, ia optimis Indonesia bisa mempertahankan dominasi dalam pasar global sekaligus mengurangi impor bahan baku dari luar negeri.

Kritik Prabowo pada sektor industri otomotif juga menjadi bagian dari Visit Agenda. Ia mempertanyakan kemampuan Indonesia dalam membangun industri mobil nasional, mengingat negara ini sudah merdeka selama 81 tahun. Ia menyoroti bahwa meskipun pasar mobil dalam negeri tumbuh, Indonesia belum mampu menghasilkan kendaraan produksi lokal yang bisa bersaing secara internasional. “Saya berdiri di depan saudara-saudara, kalian yang PhD, kenapa kita tidak punya pabrik sendiri?” tanyanya, menggambarkan kekecewaan terhadap kinerja sektor ini.

“Kita beli mobil Kia, motor tiap tahun mencapai 10 juta unit, tapi tidak ada produsen dalam negeri?”

Prabowo berharap dengan Visit Agenda, sektor otomotif bisa menjadi salah satu bidang prioritas untuk pengembangan ekonomi nasional. Ia menegaskan komitmen untuk mendorong produksi mobil buatan lokal setelah dilantik menjadi Presiden pada 20 Oktober 2024. Meski terdapat tantangan, ia yakin langkah-langkah kecil seperti penggunaan mobil nasional akan menjadi awal dari perubahan signifikan.

Dalam kesimpulan, Visit Agenda menjadi momen penting untuk mengevaluasi kinerja sektor pertanian dan manufaktur Indonesia. Prabowo menekankan bahwa pemerintah harus lebih proaktif dalam mengembangkan industri strategis, mulai dari benih gandum hingga mobil produksi dalam negeri. Dengan fokus pada produktivitas dan kemandirian, ia berharap Indonesia bisa mengatasi masalah impor dan membangun ekonomi yang lebih kuat. “Minimal kita mulai, kita harus berani mengambil langkah awal,” tegasnya, menggambarkan semangat untuk perbaikan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *