Skip to content
Yellow Desk
Agustus 1, 2026
Kumparannews

Fakta Baru Terkait Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn

Susan Davis - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Kasus dugaan penculikan yang menimpa atlet golf Jesslyn Wijaya kini memasuki fase baru. Berdasarkan informasi yang diterima kepolisian, Jesslyn tidak dibawa

Fakta Baru Terkait Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn

Polisi Ungkap Fakta Baru: Jesslyn Wijaya Dibawa Orang-orang Suruhan Ibunya

Kabarnusantaraku.com – Kasus dugaan penculikan yang menimpa atlet golf Jesslyn Wijaya kini memasuki fase baru. Berdasarkan informasi yang diterima kepolisian, Jesslyn tidak dibawa secara paksa oleh orang asing, melainkan oleh individu-individu yang ditugaskan langsung oleh sang ibu. Kejadian ini bermula ketika seorang teman Jesslyn membuat laporan terkait dugaan penculikan saat sang atlet menghadiri perayaan ulang tahun neneknya di sebuah restoran yang berlokasi di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Awalnya, kuasa hukum keluarga menyatakan bahwa korban diduga dibawa oleh lima pria dan sejak saat itu tidak dapat dihubungi oleh keluarga maupun teman-temannya. Namun, Kapolres Metro Jakarta Pusat mengungkap temuan baru yang mengubah narasi kasus ini.

“Kita tahu, sudah tahu. Ada orang-orang yang disuruh oleh ibunya, ibunya Jesslyn yang suruh. Nah, sekarang kita tinggal bagaimana penerimaan Jesslyn terhadap kegiatan atau peristiwa tersebut,” ujar Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jumat (31/7).

Jejak Perjalanan Jesslyn dari Jakarta hingga Bangkok

Menurut AKBP Roby, polisi berhasil melacak jejak pergerakan Jesslyn setelah kejadian. Perjalanan dimulai dari lokasi ‘penculikan’ di kawasan Sawah Besar, kemudian menuju Semarang. Dari sana, Jesslyn naik pesawat dari Bandara Ahmad Yani ke Malaysia, dan akhirnya tiba di Bangkok, Thailand. Seluruh perjalanan tersebut dilakukan bersama dengan ibunya serta tantenya.

Keberadaan Jesslyn di luar negeri telah dikonfirmasi melalui sebuah video testimoni. Namun, hingga saat ini polisi masih berupaya melakukan komunikasi langsung dengan Jesslyn melalui video call untuk memastikan apakah ia dibawa secara paksa atau pergi dengan kehendak sendiri.

“Untuk keberadaannya, ya, sudah ada video testimoni. Namun, kami masih meminta untuk komunikasi langsung by Zoom meeting atau melalui video call kepada Jesslyn. Kita jadwalkan hari ini sudah bisa berhubungan atau bersentuhan langsung dengan Jesslyn yang sedang berada di luar negeri melalui Zoom meeting dan video call,” ungkap Roby.

Evan Berjuang Memastikan Hak-Hak Jesslyn

Evan, calon suami Jesslyn Wijaya, terus melakukan berbagai upaya hukum untuk menemukan keberadaan pasangannya yang telah hilang kontak selama lebih dari dua pekan. Pada siang hari tersebut, Evan beserta kuasa hukumnya, Andi Darti, mengunjungi Komnas Perempuan untuk meminta perlindungan dan bantuan dalam menangani kasus dugaan perampasan kemerdekaan tersebut.

“Saya hanya memperjuangkan hak asasi manusia atas Jesslyn dan hak Jesslyn sebagai perempuan dewasa yang sudah berumur 32 tahun untuk bisa menentukan pilihannya sendiri, menentukan hidupnya sendiri, mandiri,” tegas Evan saat ditemui wartawan di Kantor Komnas Perempuan, Jumat (31/7).

Evan menjelaskan bahwa kunjungannya ke Komnas Perempuan bertujuan agar Jesslyn dapat terbebas dari segala bentuk ancaman dan pengekangan yang merenggut hak-hak dasarnya sebagai manusia. Ia menginginkan Jesslyn dapat hidup seperti layaknya manusia normal dan dewasa di negara Indonesia tanpa intimidasi dari pihak manapun.

Langkah ini didasari oleh kekhawatiran mendalam Evan terhadap keselamatan jiwa Jesslyn. Evan mengaku mengetahui rekam jejak penderitaan calon istrinya yang pernah dikurung dan dirampas seluruh alat komunikasinya oleh pihak keluarga pada rentang April hingga Oktober 2025 lalu.

“Jadi laporan itu Jesslyn ada di rumah ibunya. Kemudian Jesslyn handphonenya dirampas, laptopnya juga disita oleh ibunya, sehingga Jesslyn tidak punya alat komunikasi apa pun untuk berhubungan dengan saya atau pun dengan teman-temannya,” kata Evan.

Evan membeberkan bahwa pengekangan ketat tanpa akses gawai di masa lalu tersebut pernah membuat kondisi mental Jesslyn tertekan hebat hingga mengalami depresi berat. Selama lebih dari enam bulan di rumah, Jesslyn tidak bisa melakukan banyak hal kecuali membaca buku dan menonton TV. Kondisi ini menyebabkan Jesslyn depresi sekali dan sudah tiga kali melakukan percobaan bunuh diri karena tidak kuat dengan perlakuan ibunya terhadapnya.

Kini, meskipun menghadapi hambatan karena Komnas Perempuan dan UPTD PPA terkendala dalam menghubungi Jesslyn akibat gawai korban kembali dirampas, Evan menegaskan tidak akan berhenti berikhtiar. Evan berharap Komnas Perempuan akan melakukan tindakan selanjutnya dan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk membantu Jesslyn.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *