Skip to content
Yellow Desk
Agustus 1, 2026
Kumparannews

Kisah Auliya, Peserta Disabilitas Asal Medan yang Lulus Diklat SPPI Kopdes

Joseph Garcia - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Kisah Auliya Peserta Disabilitas Asal Medan menjadi sorotan tersendiri di tengah ribuan peserta yang mengikuti program strategis nasional. Muhammad Auliya

Kisah Auliya, Peserta Disabilitas Asal Medan yang Lulus Diklat SPPI Kopdes

Kisah Auliya Peserta Disabilitas Asal Medan: Menembus Batas dalam Diklat SPPI Kopdes

Kabarnusantaraku.com – Kisah Auliya Peserta Disabilitas Asal Medan menjadi sorotan tersendiri di tengah ribuan peserta yang mengikuti program strategis nasional. Muhammad Auliya Ansori, seorang pemuda dari Medan, Sumatera Utara, berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan dan pelatihan SPPI untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih serta Kampung Nelayan Merah Putih di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Upacara penutupan yang berlangsung pada Jumat, 31 Juli 2025, menandai pencapaian bersejarah bagi pria yang tercatat sebagai satu-satunya peserta penyandang disabilitas di satuan pendidikannya.

Profil dan Latar Belakang Pendidikan

Auliya menempuh pendidikan di Pusat Bahasa Kodiklat TNI Angkatan Udara, Subang, Jawa Barat. Selama masa pendidikan berlangsung, ia dipercaya mengemban tugas penting sebagai Penjamin Mutu untuk program Kampung Nelayan Merah Putih. Kehadirannya sebagai peserta dengan kebutuhan khusus memberikan perspektif baru dalam dinamika pembelajaran bersama rekan-rekan lainnya.

Sebagai lulusan Manajemen Sumber Daya Perairan dari Universitas Sumatera Utara, Auliya memiliki fondasi akademik yang kuat di bidang perikanan dan kelautan. Latar belakang inilah yang mendorongnya untuk aktif berkontribusi dalam program-program pembangunan pesisir nasional.

“Itu yang berkebutuhan khusus atau difabel itu saya sendiri, seorang,” ujar Auliya kepada wartawan setelah upacara penutupan dengan penuh kebanggaan.

Motivasi dan Dedikasi untuk Masyarakat Pesisir

Keputusan Auliya untuk mengikuti SPPI dilandasi oleh kedekatan emosionalnya dengan masyarakat pesisir yang telah ia kenal selama masa perkuliahan. Pengalaman lapangan yang ia dapatkan memberikan pemahaman mendalam tentang tantangan yang dihadapi nelayan dan masyarakat pantai.

“Saya merupakan seorang Sarjana Perikanan di mana saya mendapatkan banyak pengalaman selama kuliah terkait dengan kehidupan masyarakat pesisir, sehingga saya ingin berkontribusi khususnya pada program prioritas nasional yaitu program Kampung Nelayan Merah Putih ini,” tegasnya.

Proses Pembelajaran dan Pendekatan Humanis

Dalam proses diklat, Auliya menjalani dua fase utama yang dirancang secara komprehensif. Pertama adalah Pendidikan Bela Negara yang berlangsung sekitar 30 hari, dilanjutkan dengan pendidikan manajerial selama 15 hari. Kedua tahapan ini disesuaikan dengan formasi masing-masing peserta sesuai kebutuhan program.

Sebagai calon Penjamin Mutu, ia mempelajari cara memperkuat kualitas dan daya saing produk hasil perikanan. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, Auliya tidak merasa mendapatkan perlakuan berbeda dari peserta lainnya dalam setiap kegiatan pembelajaran.

“Apabila saya menyanggupi, maka saya ikut. Apabila tidak, maka saya mengikuti arahan dari pelatih, seperti itu,” kata dia menjelaskan pendekatan yang diterapkan para pelatih dan pembina.

Visi dan Rencana ke Depan

Bekal ilmu yang diperoleh selama diklat akan ia terapkan saat mulai bertugas di lapangan. Auliya memiliki harapan besar untuk membantu meningkatkan kualitas produk unggulan dari setiap Kampung Nelayan Merah Putih yang menjadi tanggung jawabnya.

“Yang ditekankan dari Kampung Nelayan Merah Putih ini adalah penguatan daya saing produk seperti itu. Jadi nantinya produk-produk yang memiliki nilai potensial dari suatu daerah Kampung Nelayan Merah Putih, maka bisa akan ditingkatkan ataupun didistribusikan lebih baik seperti itu,” ujar Auliya.

Bagi Auliya, kelulusan dari SPPI bukan hanya sekadar menyelesaikan pendidikan. Kesempatan ini menjadi langkah awal untuk mengabdikan ilmunya kepada masyarakat pesisir sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Kisah Auliya Peserta Disabilitas Asal Medan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa semangat dan dedikasi lebih penting daripada hambatan yang ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *