Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

Special Plan: IMO Ungkap Alasan Stop Operasi Pengawalan Kapal Lintasi Selat Hormuz

Emily Davis - kabarnusantaraku.com 3 mins read

: IMO Berhenti Sementara dari Pengawalan Kapal di Selat Hormuz Special Plan memicu perubahan strategis dari Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO) dalam

Special Plan: IMO Ungkap Alasan Stop Operasi Pengawalan Kapal Lintasi Selat Hormuz

Special Plan: IMO Berhenti Sementara dari Pengawalan Kapal di Selat Hormuz

Special Plan memicu perubahan strategis dari Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO) dalam mengawasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Keputusan ini diambil setelah sebuah kapal kargo mengalami serangan proyektil di dekat Oman, yang membawa ketegangan geopolitik kembali ke permukaan. Menurut laporan Badan Maritim Inggris, UKMTO, insiden tersebut terjadi beberapa jam setelah Iran mengirim peringatan kepada kapal-kapal yang melintasi jalur yang belum disetujui oleh pemerintah Teheran. Pernyataan ini mengindikasikan adanya kecemasan terhadap keamanan perdagangan energi global.

Detail Serangan pada Kapal Ever Lovely

Kapal yang menjadi korban serangan, Ever Lovely, benderanya berkibar di Singapura, dan insiden ini menimbulkan pertanyaan tentang siapa pelaku. Dua sumber dari pemerintah AS mengungkapkan kepada Reuters bahwa kemungkinan besar serangan tersebut dilakukan oleh Iran, yang juga memerintahkan dua kapal berbendera Panama untuk mengubah arah perjalanan mereka. Otoritas Selat Teluk Persia Iran (IRGC) menegaskan bahwa keamanan kapal hanya bisa dijamin jika mereka mengikuti rute yang ditentukan oleh pemerintah. “Kapal yang melintasi jalur tanpa izin akan menanggung konsekuensi sendiri,” kata pernyataan resmi dari lembaga tersebut.

Menurut sumber keamanan maritim, serangan tersebut kemungkinan besar menggunakan drone sebagai alat. Meski belum ada bukti langsung, kejadian ini menjadi peringatan terhadap keberlanjutan Special Plan yang bertujuan memastikan perlindungan kapal-kapal yang melalui jalur strategis ini. Dengan menghentikan operasi pengawalan, IMO mencoba mengurangi risiko konflik yang dapat mengganggu pasokan energi internasional.

Program Pengawalan dan Dampak pada Pasar Energi

Program pengawalan yang diperkenalkan pada Selasa (24/6) sebagai bagian dari Special Plan menawarkan dua jalur alternatif bagi kapal untuk melewati Selat Hormuz. Jalur pertama melalui perairan Iran dan yang kedua melalui Oman, dengan pengawasan oleh AS. Namun, kapal Ever Lovely tidak termasuk dalam daftar evakuasi yang baru diumumkan, sehingga menjadi titik awal dari keputusan IMO untuk menghentikan operasi.

Ketegangan ini langsung memengaruhi pasar energi. Harga minyak mentah global naik sekitar 2% setelah insiden serangan, karena kekhawatiran meningkat bahwa distribusi energi dari wilayah Teluk akan kembali terganggu. Sebelum konflik, Selat Hormuz menjadi jalur strategis yang melalui sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair di dunia setiap hari. Dengan adanya Special Plan, pihak berwenang berharap dapat meminimalkan risiko serangan dan menjaga kelancaran distribusi energi.

“Penghentian operasi pengawalan ini dilakukan untuk memastikan keselamatan kapal yang terdaftar dalam program evakuasi serta kapal lain yang berada di kawasan ini,” ujar Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez. Keputusan ini menunjukkan respons terhadap situasi yang semakin rumit di Selat Hormuz, di mana pertengkaran antara Iran dan kapal-kapal asing terus mengancam.

Menlu AS Marco Rubio telah memberi peringatan sebelumnya bahwa AS akan bereaksi jika Iran mengancam atau menghalangi kapal. Meski Iran menunjukkan sinyal untuk tetap mengendalikan jalur tersebut, kondisi keamanan di Selat Hormuz masih memicu kehati-hatian global. Dalam 24 jam terakhir, sekitar 20 juta barel minyak dilaporkan melewati jalur strategis ini, meskipun ada kekhawatiran bahwa operasi tersebut akan mengalami hambatan setelah Special Plan dihentikan.

Analisis dari perusahaan keamanan maritim Inggris Ambrey menunjukkan bahwa IRGC terus memantau keberadaan kapal-kapal yang melewati jalur pelayaran. Meski begitu, keberhasilan Special Plan dalam menjaga ketersediaan jalur tersebut tetap menjadi fokus utama bagi pihak internasional. Dengan menghentikan operasi pengawalan, IMO mengambil langkah konservatif untuk menghindari eskalasi konflik di daerah yang kritis bagi ekonomi dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *